Pintu
Aku nomaden tua tak tahu arah Berjalan terseok-seok dengan tongkat asa Berkeriput berlekuk kulitku akan nestapa Aku butuh atap untuk bernaung Dari badai hidup membabi buta Dari serangan harap dengan belati kepalsuannya Dan lihatlah, Mata Ada bangunan tua sepertiku renta Yang ringkih pondasinya Yang suram dindingnya Yang rusak hampir segalanya Biar saja Aku harus memasukinya Menjelajahi tiap biliknya Mencari-cari yang harus ditemui Menjadi petualang tak tahu takut Menjadi penunggu tak kenal lelah Hingga nanti aku jatuh terlelap pula Namun Adakah makhluk di balik pintu? Adakah makhluk sedang menunggu? Ku intip saja dari selanya Hitam-hitam menggeliat mencekam Ternyata ada bayang Bagaimana kemudian? Bayang tak bisa kurengkuh Bayang tak bisa kugapai Bayang tak bisa kutarik paksa keluar Siapa aku untuk bayang? Putar-putar otakku kuputar Coba aku coba Bisa aku beri cahaya Terang menyilaukan Mataku saja terkesima Hingga buta Hingga bayang hilang Tak kelihatan Kemana bayang? Siapa yang menyaya...