Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Saat Cahaya Mulai Redup

Gambar
Saat cahaya mulai redup, lara kembali meletup Satu ihwal yang aku geram: kenapa tidak saat terang? Segalanya tak sekelam dalam gulita Gema pilu teredam oleh pendar   Saat cahaya mulai redup, ragaku kembali tersungkur Nama-Mu adalah teragung Rupa-Mu sungguh dirindu Tangan-Mu ingin kugamit Tak bosan kusaksikan bahwa aku tak ragu Aku adalah lemah Dan Kau yang paling tahu   Saat cahaya mulai redup, rapalku adalah satu Sudah sekian purnama kau tak berlabuh Namun harapku adalah bahagiamu Pintaku adalah bersua Untuk menyambung detik yang belum genap dirasa

Sekelebat

Gambar
Barangkali lebih tepat kupanggil kau pelawat. Ia bukan tempat wisata dimana kau bisa melancong. Ia sudah mati karena bunuh diri. Itulah sebab ia gentayangan.  Barangkali lebih tepat kusebut kau pesinggah. Ia bukan rumah tempat bernaung. Ia mendekap seluruh badai. Teduh bukan yang ia tebar. Hadirmu membuatnya gamang. Tinggi adalah celaka. Namun rupanya kau senang mendaki, sembari menggamit jemarinya yang biram. Senyummu menyulut letup. Sering bara adalah bala. Namun kembang api membuatmu bungah, terlebih yang pendarnya megah. Kau membawa angin yang mencipta porak poranda. Halai-balai sudahlah ia. Namun nyatanya kau suka berlayar, sembari menikmati rambutmu berkibar. Kuharap ia lapar pada sifar. Rapal yang diujar sudah tidak wajar.  Sediamu yang tiba-tiba bagai mimpi terantuk batu. Kau diam saja seperti seharusnya. Ia akan sadar bahwa semua fana.