Sekelebat
Barangkali lebih tepat kupanggil kau pelawat. Ia bukan tempat wisata dimana kau bisa melancong. Ia sudah mati karena bunuh diri. Itulah sebab ia gentayangan.
Barangkali lebih tepat kusebut kau pesinggah. Ia bukan rumah tempat bernaung. Ia mendekap seluruh badai. Teduh bukan yang ia tebar.
Hadirmu membuatnya gamang. Tinggi adalah celaka. Namun rupanya kau senang mendaki, sembari menggamit jemarinya yang biram.
Senyummu menyulut letup. Sering bara adalah bala. Namun kembang api membuatmu bungah, terlebih yang pendarnya megah.
Kau membawa angin yang mencipta porak poranda. Halai-balai sudahlah ia. Namun nyatanya kau suka berlayar, sembari menikmati rambutmu berkibar.
Kuharap ia lapar pada sifar. Rapal yang diujar sudah tidak wajar.
Sediamu yang tiba-tiba bagai mimpi terantuk batu.
Kau diam saja seperti seharusnya. Ia akan sadar bahwa semua fana.

Komentar
Posting Komentar