The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita
Banyak orang mengira aku tidak suka bicara, banyak diam, lebih kepada mendengarkan, bicara seperlunya saja. Ketika aku membuka mulut, semua heran.
“Tumben?”
Percayalah,
semua hal terjadi karena memiliki sebab.
Namun,
berbicara dan bercerita denganmu merupakan hal yang berbeda.
Aku tidak
mudah ingat untuk memberi kabar kepada orang lain. Kepalaku sudah penuh akan hal-hal
yang berguna dan tidak berguna. Namun kau tidak pernah lupa untuk menyapa dan
menanyakan apa yang sedang terjadi dan apa yang tengah dirasa.
“Piye, Nduk?”
(berarti “Bagaimana,
Nak?”)
Kata
tanya “Bagaimana” adalah yang paling aku suka di Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia karena merupakan pertanyaan terbuka. Aku senang menguraikan pikiran dalam kata-kata. Guru-guru suka heran melihat aku selalu meminta lembar jawaban tambahan saat ujian untuk seksi Pertanyaan Uraian.
Kata tanya “Bagaimana”
mengundang seribu jawaban. Dan aku tidak segan menyampaikan semua. Aku siap
membayar apapun untuk bisa menceritakan semua kepadamu saat ini.
Banyak yang
ingin aku beri penjelasan. Betapa aku seakan menjalani mimpi:
Hidup di
dekat kampus impian setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di dalamnya. Setiap
hari, jika mau, aku bisa memandang Danau Kenanga yang aku harap untuk bisa lihat
sekali dalam seumur hidup. Aku bisa dengan mudah mengunjungi monumen
universitas yang kau ikut mentikkan air mata saat aku diterima berkuliah di
sana.
Aku sudah
familiar dengan bunyi klakson dan hampir ditabrak oleh kendaraan yang
terburu-buru. Suara penutupan palang kereta sudah menjadi nada dering
sehari-hari. Aku juga merasakan hiruk pikuk ibu kota, setiap pagi berdesakan,
setiap sore berhimpitan dalam kereta rel listrik yang belum sempat kau naiki. Kau
pasti suka merasakan kecanggihan zaman. Dulu hanya bisa kubayangkan melalui
berita dan buku pelajaran sekolah.
Pekerjaanku
padat dan aku diberi amah yang luar biasa berat. Tapi aku juga luar biasa
senang akannya. Masih aku ingat dengan lekat bagaimana aku menyayangkan kepergianmu
sebelum aku mendapatkan gaji pertama sebagai pegawai tetap. Beberapa kolegaku baik, beberapa membuat kesal.
Aku suka berjalan
kaki kesana kemari sendirian, mandiri. Bagai apa yang kau harap padaku. Bahkan mungkin
aku terlalu berdikari sampai-sampai orang-orang marah karena aku tidak pernah
meminta bantuan mereka, sekalipun untuk keperluan membuka botol yang ditutup
terlalu rapat.
Kau mungkin
heran melihatku bertamasya tanpa ditemani. Kau takut? Mungkin tidak. Tidak ada yang bisa diminta menjadi pelindung juga. Nasib baik badanku utuh dan bernyawa.
Kau mungkin senang mendengarkan bagaimana aku dihadapkan dengan halang rintang
yang beragam. Syukur aku bisa melalui semua, tanpa aku bercerita padamu bahwa
tangisan sudah menjadi hal biasa.
Sekalipun kau di sini, ada satu topik yang enggan aku sampaikan. Beberapa kali aku jatuh hati pada perlakuan manis seseorang, mengaduk-aduk perasaan, namun pada akhirnya semua bisa sirna dengan dipaksa. Bagiku, saat ini, cinta menyakitkan.
Aku banyak
menyimpan cerita, menyembunyikannya dari siapa saja. Kantong semua orang sudah
penuh, tidak bisa ceritaku disisipkan di dalamnya begitu saja. Namun aku yakin
bahwa kau memiliki ruang tak terhingga, mau mendengarkanku kapan saja.
Aku sebenarnya
gemar berkisah, Manusia. Bahkan perihal rembulan yang cantik ingin aku gunjing
bersama siapa saja. Namun siapa?
Kau bisa
bilang aku baik-baik saja. Aku menjalani impian yang tidak pernah terbayang
akan terjadi sebelumnya, bukan? Namun tidak sepenuhnya baik-baik saja. Karena kau
pergi dan tidak kembali.
Saat ini,
aku ceritakan semua kepada Tuhan. Dan aku harap, kau berada dalam kondisi
paling baik untuk menyiapkan telinga, mendengarkan kisahku dariNya.
Kini waktu
berjalan begitu cepat. Katanya hari akhir segera lewat.
Sembari menunggu
ajal, aku akan kumpulkan kejadian segala rupa. Bolehlah Tuhan mengembalikan
segala ingatan ketika kita bertemu di surga. Akan aku tumpahkan semua cerita. Dan
aku harap Tuhan memberikan bonus berupa ketidakcanggungan suasana.

Komentar
Posting Komentar