Batasan yang Jelas


Sebelum mulai membaca, sebelumnya saya mau menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha! Sudah masakan apa saja yang dihasilkan dari daging qurban yang Teman-teman dapatkan? Semoga, selain kenyang, diri kita juga mencerna hikmah dari Idul Adha ya..

Banyak sekali hikmah yang bisa kita dapatkan dari kisah-kisah keluarga seorang nabi yang identik dengan Idul Adha. Siapakah beliau? Yap, Nabi Ibrahim AS. Namun, ada sebuah poin menarik yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini.

Nabi Ibrahim Meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail Kecil

Masih ingatkah Teman-teman tentang kisah Siti Hajar bersama Nabi Ismail kecil yang harus ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Di tengah padang pasir yang tandus, tidak ada air, tidak ada sumber daya apapun, Nabi Ibrahim harus meninggalkan kedua orang yang dicintai beliau, Siti Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi. Betapa sedihnya Siti Hajar yang masih harus menyusui Ismail dan membutuhkan kasih sayang suaminya harus berjuang sendiri sementara waktu, terlebih tempat tinggal baru mereka adalah padang pasir yang super panas dan kering, yang saat ini menjadi Mekkah. 

"Apakah engkau benar-benar akan meninggalkanku dalam keadaan tidak ada air bahkan tidak ada kehidupan di tempat ini, wahai Suamiku?"

Begitulah kiranya pertanyaan Siti Hajar kepada Nabi Ibrahim. Pertanyaan itu diujarkan Siti Hajar hingga berkali-kali sembari menangis dan Nabi Ibrahim tidak merespon apapun. Bagaimana Siti Hajar tidak bersedih dan bingung? Bagaimana beliau bisa hidup dengan baik bersama Nabi Ismail jika kondisinya demikian? Nabi Ibrahim akan meninggalkan beliau pula. Kita yang hanya mendengarkan kisahnya pun juga bingung dan merasa empati kepada Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil.

"Apakah ini adalah perintah Allah?"

Pertanyaan itu pun terucap. Barulah Nabi Ibrahim mengangguk tanpa memandang wajah istri yang dicintainya itu karena tidak kuasa menahan kesedihan. Siti Hajar akhirnya rela. Beliau yakin bahwa kehendak Allah adalah kehendak terbaik dan beliau serta Ismail akan dilindungi.

Nabi Ismail akan Disembelih Nabi Ibrahim

Adakah di antara kalian yang lupa akan asal muasal bagaimana berqurban menjadi tradisi islam hingga saat ini? Kisah ini sudah mengakar di kehidupan kita, bukan? Kisah ini sudah seakan-akan menjadi dongeng sebelum tidur sehingga hampir seluruh muslim tahu akan cerita legendaris ini.

Semua dimulai ketika Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih anaknya sendiri, Nabi Ismail AS yang mulai beranjak remaja. Sungguh wahyu yang mengagetkan tentunya. Bagaimana bisa seorang ayah menyembelih anaknya sendiri? Sejak awal, membunuh sudah bukan merupakan hal yang wajar. Dalam kasus ini, nyawa Nabi Ismail akan melayang bukan dibunuh sembarangan namun disembelih, dimana Nabi Ibrahim harus mengikat anaknya dan nantinya menggorok bagian leher anaknya dengan tangannya sendiri. 

Betapa hebatnya Nabi Ismail menerima apa yang dikatakan ayahnya. Bahkan, Nabi Ismail mengingatkan ayahnya agar mengikatnya dengan kuat agar tidak menyusahkan saat disembelih. Nabi Ismail rela karena itu adalah wahyu dari Allah.

Ketahui Batas

Dua kisah tadi merupakan implementasi ajaran tauhid yang ditanamkan Nabi Ibrahim kepada keluarganya. Betapa kuat ketauhidan keluarga Nabi Ibrahim sehingga mereka rela melakukan apapun perintah Allah meski itu menyedihkan atau menyakitkan. 

Siti Hajar bisa saja berkata "Apakah kau rela meninggalkan istrimu dengan anakmu yang masih kecil?" dan menghasut Nabi Ibrahim agar menempatkan keduanya di tempat yang lebih layak atau bahkan tidak pergi. Nabi Ibrahim bisa saja tidak mau melakukan wahyu Allah karena ia ingin melindungi hak istri dan anaknya. Sungguh rasanya tidak wajar bahwa seorang istri yang shalihah dan anak yang merupakan anugerah harus ditinggal oleh suaminya, bukan? Apalagi tanpa adanya sumber daya apa-apa yang mungkin bayangan saat itu mereka akan mati kelaparan karenanya.

Begitu pula untuk peristiwa berqurban. Nabi Ismail mungkin bisa menghasut Nabi Ibrahim bahwa membunuh anak sendiri tidak dibenarkan, melanggar hak asasi manusia untuk hidup! Pun Nabi Ibrahim bisa menyangkal menyembelih Nabi Ismail karena Nabi Ismail merupakan anak yang taat dan tidak bersalah. Masa depannya cerah sehingga tidak patut disembelih. Atau 1000 alasan lain yang bisa mencegah Nabi Ibrahim menjalankan wahyu Allah.

Berbekal tauhid yang sangat kuat, hal ini juga berkaitan dengan batasan kita sebagai manusia dalam bertingkah laku, Teman-teman. Biarlah milyaran alasan diberikan untuk tidak membenarkan perintah Allah. Namun Nabi Ibrahim dan keluarganya tahu pasti bahwa batasan yang paling patut dijadikan patokan adalah apakah itu perintah Allah atau bukan. 

Siapa yang menyangka bahwa kemudian muncul mata air zam-zam dari hentakan kaki Nabi Ismail (atau hentakan kepakan sayap Malaikat Jibril) sehingga kehidupan Siti Hajar dan Nabi Ismail bisa menciptakan peradaban umat manusia yang sekarang kita kenal sebagai Mekah? Mana ada orang yang tahu bahwa Allah ternyata mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing dan kini menjadi simbol pengorbanan yang diteladani umat islam seluruh penjuru dunia dan keberkahannya begitu tinggi?

Jika dikaitkan dengan fenomena saat ini, manusia sudah banyak lalai akan perintah Allah yang bahkan seruannya jelas adanya dan bahkan tidak seberat dan seaneh perintah Allah kepada kaum terdahulu. Semuanya didasari dengan dalih adanya pelanggaran hak asasi manusia, kebutuhan makhluk hidup, atau sejuta alasan lain yang menurut dunia adalah sebuah ketidakadilan. Semua itu dilakukan agar ia mendapat alibi untuk lalai akan perintah Allah.

Teman-teman, jika definisi dunia adalah apa yang patut kita ikuti, niscaya semua kewajiban bisa disangkal dan tidak dilaksanakan. Akan ada berbagai alasan yang membuat kita terhasut untuk tidak melaksanakan kewajiban kita yang utama sebagai hamda Tuhan Yang Maha Esa. Namun, kenyataan bahwa kewajiban itu adalah perintah Allah lah yang menjadikan kita tetap harus melaksanakannya meski sulit. 

Jadi, kita disuruh buta dengan keadaan??!

Memang sesungguhnya kita buta! 

Satu hal yang patut kita percayai bersama. Perintah Allah tentu mengandung sebuah hikmah yang besar yang mungkin mata manusia tidak bisa melihatnya sama sekali. Bahkan merasakan kehadiran hikmah yang tersembunyi pun tak mampu. Betapa terbatasnya kita untuk melihat hikmah di balik sebuah perintah agama, namun kita sudah berani untuk paling tahu bahwa perintah Allah tertentu seharusnya tidak dibenarkan.  Kita buta akan hikmah kehidupan sebelum hikmah itu kita rasakan memang. 

Mungkin memang sulit untuk mengerjakan sebuah perintah agama. Sesekali ada pikiran dalam diri kita bahwa manusia seharusnya tidak dibebankan dengan perintah sedemikian. Namun, siapakah kita mampu berprasangka? Toh Allah tidak membebankan sebuah masalah kecuali makhlukNya dinilai mampu menghadapinya. 

Akan ada berbagai alasan untuk bisa menyangkal perintah agama, Teman-teman. Tapi kita harus ingat apa yang menjadi batasan. Tauhid juga menjadi pondasi. Maka, pegang ketauhidan sampai mati.

Selamat Idul Adha!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita