The Silent Man #1: Rasaku Bukan Rasamu
Betapa kecil sesungguhnya manusia. Betapa tidak signifikannya diri kita dibandingkan alam semesta. Betapa keberadaan kita tak lain dan tak bukan hanyalah debu kosmik yang singgah sebentar sebelum tersapu oleh angin bernama kematian. Sabtu lalu, ayah saya berpulang. Tentu hal ini merupakan peristiwa yang membuat saya terpukul. Belum menginjak kepala lima, ayah sudah diminta untuk kembali ke haribaan Sang Ilahi di surga. Dengan untaian senyuman sebelum disemayamkan, beliau seakan mengatakan "Semua baik-baik saja. Kini tidak ada lagi derita." Sudah barang tentu bahwa ayah berperan banyak dalam kehidupan saya. Bukan hanya perkara menafkahi, tapi juga menginspirasi. Melepas ayah tidaklah mudah, namun saya harus bisa. Tapi, hidup masih terus berjalan. Meski tangis tak bisa lagi dibendung, burung masih saja bersenandung. Meski hati ini membiru, matahari masih saja bersinar begitu. Meski sakit hati saya ditinggal untuk selamanya, orang-orang masih beraktivitas seperti biasa....