Sekedar Mengingatkan


"Hidup itu bagaikan roller coaster."

Quotes ini udah basi ya? Basi, tapi betul juga. Maknanya adalah hidup itu bisa naik, bisa turun, bisa belak-belok, bisa bikin nangis pingin udahan aja, bisa dinikmati, pokoknya dinamis banget. But we know life is not as simple as a roller coaster. Tapi boleh lah dianalogikan demikian.

Meskipun perumpamaannya menunjukkan hidup itu gak stagnan, ada juga orang yang pernah atau sampai sekarang sedang ada di posisi dimana roller coasternya lagi lurus-lurus aja.  Gak berlika-liku, gak ada turunan yang mengagetkan, bahkan paling pol lagi nanjak pelan-pelan. Semilir angin masih terasa menyejukkan. Pemandangan masih indah dipandang. Berasa naik kereta kelinci!

Karir kok aman-aman aja ya? Pekerjaan cepet beres. Gajian makin ke sini makin naik alhamdulillah. 

Kuliah lulus-lulus aja tuh. Meskipun nilai gak sempurna, tapi cukup di atas rata-rata. Sama dosen bahkan diingat namanya. IP kadang bisa cumlaude juga.

Urusan rumah sih oke. Ayah Ibu masih sehat, masih bisa kerja. Adik Kakak akur, aman sentosa. Bahkan sempet pelihara kucing! Rumah rasanya nyaman untuk melakukan hal-hal yang memang biasanya dilakukan. Bahkan bisa nambah hobi baru.

Hidup tenang, aman, damai, dengan definisi duniawi, adalah dambaan setiap manusia. Siapa sih yang gak pingin hidup demikian? 

Tapi hati-hati.. Terkadang, tanpa aba-aba, kita akan "diingatkan". 

Masih inget gak, gimana keadaan kita di awal 2020? Saya pribadi, di awal tahun 2020, banyak dihiasi dengan pencapaian-pencapaian. Januari saya buka dengan menjadi seorang guru di pedalaman, pengalaman yang saya dambakan! Februari saya malah mau main ke negeri orang! Maret saya hendak diberi penghargaan di ajang awards kampus kesayangan. Baru awal tahun loh! Udah segini senangnya? 

Tapi kita tahu ada yang tiba-tiba menghampiri.

Pandemi datang. PHK akhirnya dilakukan. Orang-orang kelimpungan, bingung pekerjaan apa yang harus dilakoni untuk menghidupi keluarga di rumah. Coba kesana kemari mendaftar untuk mendapatkan pekerjaan, namun apa daya lowongan malah kurang. Mahasiswa dipulangkan. Berkedok pembelajaran jarak jauh, banyak dosen yang hanya memberi pekerjaan rumah tambahan. Acara-acara dibatalkan. Mau bermobilisasi? Terlalu riskan. Semuanya dihantam pahitnya kenyataan. 

Kita diingatkan.

Kita diingatkan untuk berhenti sejenak dari hirup pikuk dunia. Mungkin kita terlalu sering kesana kemari bersama kolega sehingga diingatkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Mungkin kita terlalu membabi buta mencari nafkah sehingga sementara dijauhkan dari pekerjaan. Mungkin sudah berpuluh tahun kita sehat, aman, dan sentosa, hingga akhirnya dijejali rasa tidak baik-baik saja. Mungkin kita lupa mensyukuri nikmat sesederhana keluar rumah menimbulkan polusi sehingga direm untuk tidak bermobilisasi

Ini mungkin merupakan salah satu contoh saja. Terkadang, peringatan juga dilakukan sesepele saat kita mau berkendara sepeda motor. "Hati-hati ya!". Kita tidak menyadari bahwa ucapan itu bisa berarti besar karena jika abai kita bisa celaka. Atau peringatan listrik yang mau habis. Kalau diacuhkan, mati sudah daya di rumah kita.

Diingatkan tuh gimana rasanya sih? Tergantung orangnya.

Ada orang yang jika diingatkan malah marah, tidak terima. Dia menolak bahwa apa yang dilakukan semua sudah benar, tidak ada alasan baginya untuk diingatkan. Dia akhirnya melakukan apa yang ia mau, tidak peduli dengan peringatan. Tidak mau menindaklanjuti peringatan. Kadang, tak tahu diuntung, akhirnya malah masuk dalam jurang malapetaka setelah abai akan peringatan.

Namun ada juga orang yang merasa pantas diingatkan. Ia akhirnya sadar bahwa apa yang dia lakukan harus dicek kembali apakah ada yang salah. Peringatan tentu tidak disampaikan tanpa alasan. Pelajaran berharga ia panen dari tamparan kenyataan dari peringatan. Ia akhirnya memperbaiki apa yang dilaku, memastikan peringatan tadi sudah didengarkan dan dilaksanakan.

Peringatan itu selalu ada dalam kehidupan kita, baik kecil ataupun besar. Dan benar, everything happens for a reason, termasuk peringatan. Pasti ada sesuatu yang telah kita lakukan sehingga kita diingatkan. Bisa sebuah kesalahan. Bisa sebuah keterlaluan. Bisa berupa kekeliruan. Bisa kelalaian. Namun yang pasti, penyebab datangnya peringatan seringkali bukan hal yang bagus.

Hal yang saya sebut tidak bagus bukan berarti rasanya buruk. Misalnya kita melakukan suatu kesalahan, akhirnya diperingatkan. Kasus seperti itu sudah biasa. Namun, tidak jarang peringatan datang saat kita baik-baik saja. Saat itu, mungkin kita merasa baik-baik saja, bahkan kelewat bahagia.

Ingat gak, sering orang bilang, "Jangan banyak ketawa! Entar nangis loh!" saat kita asik tertawa terbahak-bahak bersama teman. Biasanya benar terjadi. Kadang, karena tertawa keterlaluan, akhirnya bercandanya jadi kelewatan, sehingga salah satu pihak akhirnya sakit hati. Timbullah perkelahian setelah tadinya tertawa bersama. Atau tiba-tiba beberapa saat setelah tertawa bersama, timbul kasus yang menjengkelkan. Akhirnya kedua belah pihak jadi bermusuhan.

Intinya, apapun itu, pasti ada sesuatu yang kita lakukan sehingga kita diperingatkan.

Ada beberapa hal yang mungkin jadi penyebab timbulnya peringatan.

Mungkin kita terlalu berambisi mencapai banyak hal yang terbuka kesempatannya hingga lupa tujuan awal kita apa.  
Mungkin kita terlalu lama merasa aman sehingga kita dijejali rasa yang sebaliknya. 
Mungkin kita terlalu semangat mengejar dan berlarian sehingga dipaksa untuk tidak bergerak. 
Mungkin kita melakukan segalanya dengan niat yang salah sehingga disuruh untuk berkontemplasi.
Mungkin waktu kita di dunia hampir usai sehingga dipaksa harus memikirkan hari setelah kematian.

Sekarang coba renungkan. Akhir-akhir ini, adakah pertanda yang sebenarnya mengingatkan kita? Adakah peringatan yang ingin didengar oleh kita? Adakah peringatan yang ingin disadari oleh kita? Atau bahkan ada yang sedang diperingatkan dengan keras?

Ketahuilah, pasti ada sesuatu yang perlu kita periksa jika ada peringatan menimpa. Ada hal yang perlu kita perbaiki dan luruskan. Akan lebih baik jika kita memeriksa apa yang kita lakukan atau miliki secara berkala. 

Sudahkah kita mengecek apa yang kita lakukan? Sudah benar kah? Sudah lurus kah? Tidak berlebihan kah? 

Sudahkah kita mengecek apa yang kita punya? Benarkah milik kita? Apakah tidak berlebihan? Apakah diperlukan?

Peringatan, meskipun baik, tetap rasanya tidak mengenakkan. Karena ia muncul akibat ada sesuatu yang tidak beres. Jadi, saya sekedar mengingatkan, coba kita periksa apa-apa yang ada dalam hidup kita. Tidak ada salahnya kan? Sebelum diberi peringatan oleh Sang Maha Kuasa.



NB: Ini foto saya mengingatkan murid saya jawaban dari soal yang benar hahaha..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita