Postingan

Featured Post

Pelan-pelan

Gambar
Pagi itu syahdu. Akhir pekan yang dilalu tidak terlalu biru. Rindang dipandang hijau pepohonan. Riak danau bagai menari karena tertiup angin sepoi.  Ada yang sendiri, menikmati pagi dengan riuh nada musik yang digemari. Ada pula yang berdua, memadu kasih sambil melatih raga. Ada yang bersama keluarga, senang dengan ramai dan bersama. Ada juga aku, mendapati diri tenggelam dalam lantang isi kepala. Ia kupandang dengan tiba-tiba saat lelah sudah datang. Seorang adik kecil berkacamata yang celingak-celinguk kanan-kiri. Bersama kamera kecilnya, Ia mencoba memotret keindahan yang ia rasa. Tepatnya di rel kereta api komuter yang berisik. Dengan wajahnya yang lugu, Ia menanti momentum untuk ditangkap. Setelah menekan tombol kamera, Ia memeriksa hasil jepretannya dengan pekikan bahagia. Setelahnya, Ia berganti lokasi, meski hanya dengan bergeser sekian kaki. Rasa-rasanya Ia baru mendapatkan kamera itu. Masih digunakan dengan bungah dan menggebu-gebu. Mungkin saja hadiah dari sang ayah atau...

Saat Cahaya Mulai Redup

Gambar
Saat cahaya mulai redup, lara kembali meletup Satu ihwal yang aku geram: kenapa tidak saat terang? Segalanya tak sekelam dalam gulita Gema pilu teredam oleh pendar   Saat cahaya mulai redup, ragaku kembali tersungkur Nama-Mu adalah teragung Rupa-Mu sungguh dirindu Tangan-Mu ingin kugamit Tak bosan kusaksikan bahwa aku tak ragu Aku adalah lemah Dan Kau yang paling tahu   Saat cahaya mulai redup, rapalku adalah satu Sudah sekian purnama kau tak berlabuh Namun harapku adalah bahagiamu Pintaku adalah bersua Untuk menyambung detik yang belum genap dirasa

Sekelebat

Gambar
Barangkali lebih tepat kupanggil kau pelawat. Ia bukan tempat wisata dimana kau bisa melancong. Ia sudah mati karena bunuh diri. Itulah sebab ia gentayangan.  Barangkali lebih tepat kusebut kau pesinggah. Ia bukan rumah tempat bernaung. Ia mendekap seluruh badai. Teduh bukan yang ia tebar. Hadirmu membuatnya gamang. Tinggi adalah celaka. Namun rupanya kau senang mendaki, sembari menggamit jemarinya yang biram. Senyummu menyulut letup. Sering bara adalah bala. Namun kembang api membuatmu bungah, terlebih yang pendarnya megah. Kau membawa angin yang mencipta porak poranda. Halai-balai sudahlah ia. Namun nyatanya kau suka berlayar, sembari menikmati rambutmu berkibar. Kuharap ia lapar pada sifar. Rapal yang diujar sudah tidak wajar.  Sediamu yang tiba-tiba bagai mimpi terantuk batu. Kau diam saja seperti seharusnya. Ia akan sadar bahwa semua fana.

Menerima

Gambar
Kepada Yang Maha Berencana.. Aku sangat gemar berencana juga.  Jika manusia melihat bagaimana agenda tersusun baik bersamaku, mereka akan takjub. Sudah bisa terbayang apa-apa yang mungkin terjadi.  Halang, rintang, kejutan, hadiah, apapun yang membuat orang terperanjat, bisa kulukis dalam kepalaku yang kecil ini. Namun, jika yang ditulis pena malah menepi dari jalannya, barangkali aku seperti lupa diri.  Susah payah kurangkai dengan indah, rencana masih saja tercegah. Sudah disusun sedemikian rupa, namun aku lupa. Engkau tengah menyapa. "Wahai Hamba, tidak ingatkah ada aku dalam setiap goresan penamu dalam merangkai wacana? Dan dalam kehendakKu lah apa-apa menjadi nyata?" Aku tertunduk mengiyakan segala, menabir muka yang tak tahu diuntung dan dibersamai. Aku akhirnya sadar diri. Kepada Yang Maha Tahu.. Aku adalah tidak ada. Yang kutahu adalah hampa.  Lancang aku bila ikrarkan mafhum. Dan mata batinku tertutup pintu berdentum. Aku dipaksa untuk menyadari, yang kukata...

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita

Gambar
Banyak orang mengira aku tidak suka bicara, banyak diam, lebih kepada mendengarkan, bicara seperlunya saja. Ketika aku membuka mulut, semua heran. “Tumben?” Percayalah, semua hal terjadi karena memiliki sebab. Namun, berbicara dan bercerita denganmu merupakan hal yang berbeda. Aku tidak mudah ingat untuk memberi kabar kepada orang lain. Kepalaku sudah penuh akan hal-hal yang berguna dan tidak berguna. Namun kau tidak pernah lupa untuk menyapa dan menanyakan apa yang sedang terjadi dan apa yang tengah dirasa. “Piye, Nduk?” (berarti “Bagaimana, Nak?”) Kata tanya “Bagaimana” adalah yang paling aku suka di Mata Pelajaran Bahasa Indonesia karena merupakan pertanyaan terbuka. Aku senang menguraikan pikiran dalam kata-kata. Guru-guru suka heran melihat aku selalu meminta lembar jawaban tambahan saat ujian untuk seksi Pertanyaan Uraian. Kata tanya “Bagaimana” mengundang seribu jawaban. Dan aku tidak segan menyampaikan semua. Aku siap membayar apapun untuk bisa menceritakan semu...

The Silent Man #5: Nada Panggilan

Gambar
Salah satu hal lucu yang aku sadari setelah kepergianmu adalah bagaimana aku memanggil diriku dengan nada yang biasa kau gunakan saat memanggil namaku.  Bee-ni-i-ing~  Layaknya nada yang digunakan oleh seorang teman yang mengajak bermain di siang bolong sepulang sekolah. Lugu dan membuat penasaran.  Aku belum mafhum dengan mekanisme kematian. Aku pun enggan mengerti akannya. Apakah kau bisa melihatku dari kejauhan, menyaksikanku bertingkah sebagian besar mengecewakan? Atau kita dibatasi tembok tinggi di antara 2 dimesi yang berbeda?  Yang jelas adalah aku selalu memanggil namaku sendiri ketika gundah melanda atau panik datang tiba-tiba. Aku menyebut namaku sendiri untuk menenangkan diri. Panggilan namaku bagai pelukan yang meredam emosi. Panggilan namaku bagaikan suatu kontrol diri.  Akhir-akhir ini aku sadar bahwa nada panggilanku terhadap diriku sendiri adalah seperti nada yang kau pakai ketika memanggilku ke papan tulis di ruang kerjamu untuk mendengarkan let...

Selayaknya Diri Kita

Gambar
Sore itu adalah salah satu dari beberapa waktu dimana saya harus berpisah dengan keluarga. Sore itu adalah momen penyadaran bahwa saya akan kembali hidup sendiri dalam keseharian. Sore itu terik, namun diteduhkan hujan beberapa menit kemudian. Hijau pohon menjadi kabur dan kelam. Rasanya dingin, namun menyenangkan. Langit kelabu bak menitikkan air mata. Rasanya kuyup, namun menyegarkan. Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa saya bisa dengan leluasa memilih kereta api eksekutif untuk bepergian jauh. Bahkan tidak pernah juga terpikirkan oleh saya bahwa saya bisa sesering itu bermobilisasi dari kampung halaman ke Ibukota. Kursi yang nyaman dan suasana yang syahdu menjadikan saya berkontemplasi. “Apakah saya layak mendapatkan apa yang saya miliki saat ini?” Pernahkah kalian juga bertanya demikian? Heran rasanya, bisa mendapatkan rezeki yang berlimpah. Kaget rasanya, mendapatkan hadiah dari seorang sahabat yang harganya tidak ternilai. Perasaan itu tidak melulu berupa materi. ...