Pelan-pelan

Pagi itu syahdu. Akhir pekan yang dilalu tidak terlalu biru. Rindang dipandang hijau pepohonan. Riak danau bagai menari karena tertiup angin sepoi. 

Ada yang sendiri, menikmati pagi dengan riuh nada musik yang digemari. Ada pula yang berdua, memadu kasih sambil melatih raga. Ada yang bersama keluarga, senang dengan ramai dan bersama. Ada juga aku, mendapati diri tenggelam dalam lantang isi kepala.


Ia kupandang dengan tiba-tiba saat lelah sudah datang. Seorang adik kecil berkacamata yang celingak-celinguk kanan-kiri. Bersama kamera kecilnya, Ia mencoba memotret keindahan yang ia rasa. Tepatnya di rel kereta api komuter yang berisik. Dengan wajahnya yang lugu, Ia menanti momentum untuk ditangkap. Setelah menekan tombol kamera, Ia memeriksa hasil jepretannya dengan pekikan bahagia. Setelahnya, Ia berganti lokasi, meski hanya dengan bergeser sekian kaki.

Rasa-rasanya Ia baru mendapatkan kamera itu. Masih digunakan dengan bungah dan menggebu-gebu. Mungkin saja hadiah dari sang ayah atau ibu. Atau bisa jadi dibeli dari tabungannya yang dikumpul seribu dua ribu.

Muncul suatu pertanyaan dalam benakku.

Kapan terakhir kali aku bergairah dalam melakukan suatu pekerjaan sedemikian rupa?


Sembari menulis tulisan ini, aku mengingat kembali hari-hari yang berlalu. Kadang, siang berganti malam tanpa terasa bermakna. Saban hari berdesakan di kereta komuter kala pagi dan pulang dengan menatap kosong jendela meski mentari terbenam dengan indahnya.

Siapakah yang perlu disalahkan? Kini, membuka lembar baru rasanya menakutkan. Ragu menjadi hambatan. Takut gagal menjadi kecemasan.

Siapa yang perlu menjelaskan? Setiap batu loncatan, atau baiknya disebut kerikil loncatan, serasa tidak pernah cukup. Tak pernah dirayakan. Rasanya stagnan.

Siapa yang perlu membersamai? Setiap merasa kurang, langsung jatuh dan sulit bangkit. Refleksi menjadi kontemplasi berlebih. Kembali bergerak menjadi berat.

Adik kecil itu tak mengira akan menampar diri ini keras-keras. Terharu rasanya membayangkan Ia akan pulang dan menunjukkan hasil jepretannya dengan bangga. Esok sepulang sekolah, boleh jadi Ia kembali berburu momen indah untuk ditangkap. Dan aku boleh jadi masih memusingkan harapan.

Pelan-pelan kita cari. Ada banyak makna yang mendalami suatu intensi. Tinggal kita saja yang menyocokkannya dengan nilai diri. Jika perlu, harus diredefinisi.

Pelan-pelan kita bangun kembali. Selalu ada ruang untuk percikan kembang api dalam hati untuk pekerjaan yang dilaku. Untuk hidup yang dijalani.

Pelan-pelan kita poles kembali agar awet dan tahan lama. Mendatangkannya saja tak mudah. Mempertahankannya soal yang berbeda. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita