Pelan-pelan
Kapan terakhir kali aku bergairah dalam melakukan suatu pekerjaan sedemikian rupa?
Sembari menulis tulisan ini, aku mengingat kembali hari-hari yang berlalu. Kadang, siang berganti malam tanpa terasa bermakna. Saban hari berdesakan di kereta komuter kala pagi dan pulang dengan menatap kosong jendela meski mentari terbenam dengan indahnya.
Siapakah yang perlu disalahkan? Kini, membuka lembar baru rasanya menakutkan. Ragu menjadi hambatan. Takut gagal menjadi kecemasan.
Siapa yang perlu menjelaskan? Setiap batu loncatan, atau baiknya disebut kerikil loncatan, serasa tidak pernah cukup. Tak pernah dirayakan. Rasanya stagnan.
Siapa yang perlu membersamai? Setiap merasa kurang, langsung jatuh dan sulit bangkit. Refleksi menjadi kontemplasi berlebih. Kembali bergerak menjadi berat.
Adik kecil itu tak mengira akan menampar diri ini keras-keras. Terharu rasanya membayangkan Ia akan pulang dan menunjukkan hasil jepretannya dengan bangga. Esok sepulang sekolah, boleh jadi Ia kembali berburu momen indah untuk ditangkap. Dan aku boleh jadi masih memusingkan harapan.
Pelan-pelan kita cari. Ada banyak makna yang mendalami suatu intensi. Tinggal kita saja yang menyocokkannya dengan nilai diri. Jika perlu, harus diredefinisi.
Pelan-pelan kita bangun kembali. Selalu ada ruang untuk percikan kembang api dalam hati untuk pekerjaan yang dilaku. Untuk hidup yang dijalani.
Pelan-pelan kita poles kembali agar awet dan tahan lama. Mendatangkannya saja tak mudah. Mempertahankannya soal yang berbeda.

Komentar
Posting Komentar