Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Sayatan Lisan

Ada satu lagi orang bercerita. Lagi-lagi tentang depresi. Lagi-lagi tentang bunuh diri. Lagi-lagi tentang bully . Lagi-lagi tentang lisan menyayat hati. Saya jadi ingat dengan kalimat yang selalu diucapkan oleh ustadz dan ustadzah di SD saat saya dan teman-teman kelas saya berisik. "Qul khoiron!" Lalu kami menjawab, "Au liyasmut!" "Berkatalah yang baik. Atau diamlah." Suatu kalimat yang benar -benar tepat. Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan dalam berucap. Orang baik disebut pencitraan. Mungkin memang benar bahwa orang-orang yang di depan kita adalah orang yang sedang melakukan pencitraan. Ya wajar saja. Saat kita sendiri, sebagian besar dari kita pasti merasa bebas dan leluasa untuk menjadi diri sendiri yang mungkin saja sikap diri kita itu buruk. Misalnya, seseorang sedang sendirian di kamar. Bisa jadi, sesampainya di kamar, orang itu melempar-lemparkan tas dan bajunya di sembarang tempat karena kelelahan setelah menj...

Kita Dibenci

Jika ditanya, apa hal yang paling saya takutkan? Jawabannya adalah dibenci oleh orang lain. Saat saya merasa takut akan dibenci, semua kegiatan berkarya saya terhambat. Berkarya dalam hal ini bisa berupa banyak hal, seperti mencapai nilai baik di kelas, menulis puisi, menulis artikel, menggambar, memotret, membuat video, atau bahkan bertingkah laku dalam keseharian. Hal ini karena perasaan takut dibenci beranak menjadi takut akan karya saya jelek, kurang sempurna, tidak memuaskan, atau tidak membuat orang senang sama sekali. Saya jadi tidak percaya diri dan takut melakukan sesuatu, sehingga potensi yang sebenarnya ada dalam diri saya bisa tidak terkembangkan dan terekspos karena saya memikirkan bahwa orang mungkin saja benci dengan apa yang saya lakukan. Dan pikiran ini sungguh sangat tidak sehat! Sebelumnya, mari kita fokuskan kasus benci kita adalah dibenci bukan karena masalah pribadi atau pertengkaran. Untuk masalah perkelahian, ya wajar saja terjadi benci membenci. Walau...

Menempatkan dan Menakar Rasa

Beberapa waktu yang lalu, saya merasa berada pada titik terendah saya sebagai manusia. Saya galau. Saya ditinggalkan oleh seorang manusia. Orang ini adalah sosok yang sangat saya kagumi, sangat saya sayangi, sangat saya percayai, dan sangat saya harapkan. Ternyata, 'ke-sangat-an' ini adalah awal dari terjerumusnya saya menjadi manusia yang rendah. Katanya, yang berlebihan itu tidak baik. Dan sekarang saya menyadari bahwa hal ini bukan 'katanya' lagi, melainkan 'nyatanya'. Apa yang membuat saya menjadi manusia rendahan karena sangat mengagumi? Jawabannya adalah saya menjadi buta akan keburukan yang ia berikan kepada saya. Mungkin bukan keburukan yang bisa terlihat secara fisik, melainkan keburukan dalam perkataan ataupun pikiran. Saat itu saya menganggap apapun yang ia lakukan, walaupun sebenarnya buruk, adalah baik-baik saja. Sehingga saya tidak sadar bagian keburukan ini terus-menerus terjadi dan memberikan dampak buruk juga kepada saya. Ap...