Sayatan Lisan
Ada satu
lagi orang bercerita. Lagi-lagi tentang depresi. Lagi-lagi tentang bunuh diri.
Lagi-lagi tentang bully. Lagi-lagi tentang lisan menyayat hati.
Saya jadi ingat dengan kalimat yang
selalu diucapkan oleh ustadz dan ustadzah di SD saat saya dan teman-teman kelas
saya berisik.
"Qul khoiron!"
Lalu kami menjawab,
"Au liyasmut!"
"Berkatalah
yang baik. Atau diamlah."
Suatu kalimat yang benar-benar tepat.
Ada banyak hal yang perlu kita
perhatikan dalam berucap.
Orang baik disebut pencitraan.
Mungkin memang benar bahwa
orang-orang yang di depan kita adalah orang yang sedang melakukan pencitraan.
Ya wajar saja. Saat kita sendiri, sebagian besar dari kita pasti merasa bebas
dan leluasa untuk menjadi diri sendiri yang mungkin saja sikap diri kita itu
buruk. Misalnya, seseorang sedang sendirian di kamar. Bisa jadi, sesampainya di
kamar, orang itu melempar-lemparkan tas dan bajunya di sembarang tempat karena
kelelahan setelah menjalani aktivitas yang padat. Lain halnya jika ada orang
lain di dalam kamar itu, ia akan lebih menjaga sikapnya. Dalam hal ini,
ternyata sebagian besar kita melakukan pencitraan saat berada di depan orang
lain.
Kalaupun ternyata kita sempat
melihat seseorang sedang berada di sikap yang buruk, itu adalah kebetulan,
karena Allah menunjukkan aib orang tersebut kepada kita. Alangkah baiknya jika
kita tidak mengumbar-umbar aib orang tersebut kepada orang lain dan
menyimpannya untuk diri kita sendiri saja.
Orang berpakaian rapi disebut
dandan genit.
Ini yang disebut judging atau
mungkin juga bisa disebut suudzon. Beberapa orang dengan mudah menjudge
orang lain tanpa mengetahui latar belakang orang lain tersebut melakukan
sesuatu. Kita tidak akan pernah tahu bahwa orang yang berpakaian rapi itu
ternyata hendak pergi melamar pekerjaan. Dan berpakaian rapi di sini sangatlah
krusial, bukan? Tidak mungkin jika seseorang hendak melamar pekerjaan ia akan
menggunakan kaos oblong dan celana pendek serta sandal jepit. Tidak menutup
kemungkinan jika ada orang lain yang melihatnya sedang berjalan dengan pakaian
rapi akan berspekulasi bahwa orang yang rapi itu sedang genit mencari
perhatian. Karena itulah kita sebaiknya tidak menjudge orang lain dengan
kita dalam keadaan tidak tahu-menahu tentang maksud sebenarnya orang lain itu.
Kalau misalnya kita benar-benar
ingin tahu mengapa seseorang melakukan sesuatu, tidak ada salahnya jika kita
bertanya kepadanya. Bertanya akan membuat kita paham dan tidak suudzon.
Orang sombong disebut sombong.
Terkadang, apa yang disebut oleh
orang-orang adalah benar. Gosip tentang keburukan orang lain bisa saja memang
didasari kenyataan yang ada. Tapi, apa dampak positif yang akan timbul jika
kita mengumbar keburukan orang lain sekalipun itu benar? Tidak ada, apabila
dampak positif harus dirasakan oleh kedua belah pihak. Lebih baik mana,
mengumbar keburukan orang lain atau ngobrol empat mata dengan orang yang
bersangkutan untuk menasihatinya?
Hati-hati dalam berbicara ya,
Teman-teman..
Tidak sedikit orang yang hampir
gila memikirkan ucapan orang yang membencinya.
Tidak sedikit orang yang depresi
karena lelah dibully dan dicaci maki.
Tidak sedikit orang lain ingin
bunuh diri karena omongan-omongan bodoh orang di sekitarnya.
Tidak sedikit orang di sekitar kita
yang menderita akan buruknya lisan kita yang tidak terjaga.
Qul khoiron au
liyasmut.
Komentar
Posting Komentar