Kita Dibenci

Jika ditanya, apa hal yang paling saya takutkan? Jawabannya adalah dibenci oleh orang lain.

Saat saya merasa takut akan dibenci, semua kegiatan berkarya saya terhambat. Berkarya dalam hal ini bisa berupa banyak hal, seperti mencapai nilai baik di kelas, menulis puisi, menulis artikel, menggambar, memotret, membuat video, atau bahkan bertingkah laku dalam keseharian. Hal ini karena perasaan takut dibenci beranak menjadi takut akan karya saya jelek, kurang sempurna, tidak memuaskan, atau tidak membuat orang senang sama sekali. Saya jadi tidak percaya diri dan takut melakukan sesuatu, sehingga potensi yang sebenarnya ada dalam diri saya bisa tidak terkembangkan dan terekspos karena saya memikirkan bahwa orang mungkin saja benci dengan apa yang saya lakukan. Dan pikiran ini sungguh sangat tidak sehat!

Sebelumnya, mari kita fokuskan kasus benci kita adalah dibenci bukan karena masalah pribadi atau pertengkaran. Untuk masalah perkelahian, ya wajar saja terjadi benci membenci. Walau wajar, hal itu tetap buruk.  Dan yang harus dilakukan adalah maaf memaafkan dan berubah menjadi lebih baik demi diri sendiri dan orang yang bersangkutan.
Kasus benci dalam post kali ini adalah bukan karena berkontak langsung, hanya karena faktor perasaan subjektif saja.

Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa harus takut?

Setiap orang pasti dibenci. 
There’s always going to be someone who hates you.

Rasulullah pun, yang merupakan manusia paling sempurna, yang dijamin masuk surga, yang segala macam kebaikan ada pada beliau, tetap memiliki pembenci. Jadi, sebaik apapun manusia, pasti ada orang lain yang masih tidak suka.
Tapi, kasus Rasulullah ini tidak bisa disamakan dengan kasus kita, manusia biasa. Dalam pembencian Rasulullah, tentu yang salah adalah pembencinya. Namun untuk kasus kita, kesalahan bisa ada pada pembenci ataupun kita.

Dalam kasus membenci, seringkali yang salah adalah kita, sebagai orang yang dibenci. Mungkin ada tingkah laku dan tutur kata kita yang memang buruk sehingga orang tersebut geram dan kemudian tidak suka kepada kita, sekalipun perilaku kita tidak ditujukan secara langsung kepada pembenci tersebut. Misalnya saat kita berada dalam suatu organisasi, kita bersikap egois kepada anggota divisi kita. Si X, yang berada pada divisi lain, melihat kita bersikap egois. Lalu ia tidak suka dengan kita. Jadi, sebenarnya egoisme kita tidak ditujukan kepada X, tapi memang egoisme kita inilah yang buruk bagi semua orang dan perlu dibenahi.
Untuk itu, diperlukan introspeksi diri.
Saat dibenci oleh orang lain, sebaiknya jangan play victim langsungBaiknya kita cek diri kita, apakah ada yang salah dengan diri kita, apakah ada perilaku kita yang membuat orang lain tidak suka, dan lain-lain.

Learn to use the criticism as fuel and you will never run out of energy. – Orrin Woodward

Apabila sudah introspeksi, marilah kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik untuk kebaikan kita sendiri. Sebisa mungkin kita hindari hal-hal yang memicu kekurangan kita dan mendekati hal-hal yang dapat meningkatkan potensi kita, sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik karena berhasil mengurangi kambuhnya kekurangan kita dan menutupinya dengan mengekspos potensi kita.
Kita tidak perlu secara langsung menunjukkan perubahan dengan berteriak "Hei, saya sudah berubah!" kepada orang yang tidak suka dengan kita. Cukup lakukan apa yang seharusnya kita lakukan, biarkan mereka yang melihat dengan mata kepala mereka sendiri. InsyaAllah, lama-lama mereka akan memperhatikan perubahan kita dan kemudian hanya menganggap kebencian mereka akan sifat kita hanyalah masa lalu dan tidak perlu diungkit.

Pada kasus yang kedua, kadang, orang yang salah adalah orang yang menbenci kita. Kita mungkin tidak pernah berinteraksi dengan Y, tidak pernah berurusan, bahkan tidak kenal, tapi Y bisa sana membenci kita.

Let's always remember this!
Kita hidup bukan untuk orang lain!
Kebaikan apapun yang kita katakan dan lakukan, orang yang membenci kita tidak akan mau menerimanya dan tetap menganggap bahwa kita adalah buruk. Sedih memang. But reality always hits us, even punches us on the face, right?
Apapun yang kita lakukan, walaupun sudah benar dan sepertinya tidak ada celah keburukan sama sekali, akan masih ada orang yang membenci kita. Mereka adalah orang yang iri kepada kita dan kurang kerjaan.

Jadi, tetaplah lakukan apapun yang menurut kita benar dan jangan hiraukan orang-orang seperti ini. Apabila kita merespons terhadap kebencian mereka yang tidak jelas ini, mereka akan lebih senang. Apabila kita cuek dan tetap melakukan kebaikan, mereka lama-kelamaan akan lelah dan geram sendiri. Jadi, terkadang, tidak acuh adalah salah satu sikap yang paling tepat dalam berkehidupan.

Remember, people only rain on your parade because they’re jealous of your sun and tired of their shade. – Unknown

Jadi, dalam menyikapi orang lain yang membenci kita, kita harus menyesuaikan dengan keadaanya terlebih dahulu, apakah pembencian itu adalah seperti kasus pertama atau kasus kedua.
Jangan sampai kita terlarut-larut dengan overthinking mengenai kita dibenci orang lain. Semua terjadi pasti karena suatu alasan dan suatu maksud, bukan?

Selamat menghadapi para pembenci!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita