Sementara


Pernahkah teman-teman sejenak merenung tentang bagaimana segala momen di dunia ini adalah fana? Kebisingan yang kalian dengarkan sembari membaca tulisan ini nantinya mungkin akan hilang ketika kalian mulai memejamkan mata untuk tidur malam. Kegelisahan yang sedang kalian rasakan sembari memandang layar telepon pintar akan pudar karena kalian dialihkan dengan sulitnya pekerjaan rumah yang sedang dikerjakan. Bahkan rasa bungah yang sedang dirasa kelak akan digantikan oleh rasa yang sebaliknya.


Untuk kalian yang sedang gundah gulana, mungkin akan ada pertanyaan, "Tapi kapan perasaan ini akan usai? Badai ini sudah berlangsung terlalu lama."

Saya ingat betul betapa saya rasanya mau mati saja setelah sekian lama dihadapkan pada suatu peristiwa buruk yang berulang. Saya pikir ini akan terus terjadi hingga saya meninggal kelak. Derita tiada henti ini akan tidak pernah berhenti. Sudah lelah sekali rasanya. Tapi suatu ketika derita yang saya alami berhenti dan saya bisa merasakan kebabasan yang tak pernah saya syukuri sebelumnya. Saat menoleh ke belakang, saya memikirkan betapa saya sangat putus asa dengan segala yang saya hadapi. Tapi ternyata saya bisa mencapai titik yang membahagiakan juga. 

Tapi.. Teman-teman yang sedang senang mungkin menyangkal, "Tidak mungkin. Saya sedang baik-baik saja. Saya akan bisa menjaga momentum ini."

Dan itulah yang sempat saya pikirkan. Saya cukup yakin bahwa kebahagiaan yang saya rasakan pada cerita sebelumnya akan berakhir lama. Saya berhak mendapatkannya setelah sekian lama saya menderita. Ini adalah hadiah bagi saya. Namun ternyata kebahagiaan itu sementara. Derita saya, yang bahkan bentuknya sama, kembali lagi terjadi.


Teman-teman, ketahui bahwa apa yang sedang terjadi kelak akan hilang.

Bahagiamu akan makin pudar.

Sedihmu akan sirna.

Bahkan hidupmu akan usai.




Jika mudah bagi kita untuk memahami ini semua, maka...

Hidup adalah memaksimalkan apa yang ada,

tidak meremehkan, tidak take it for granted. Bahagia ataupun sedih, menikmatinya adalah yang paling bijak. Memang tidak mudah jika itu adalah kesedihan. Tapi ketahui bahwa momen-momen itu adalah pelajaran yang perlu kehadiran penuh diri kita di dalamnya agar hikmah yang didapatkan benar-benar dirasakan.

Waspada ditambah doa adalah perlu. 

Meski kita bisa berada dalam sebuah momen yang sedang terjadi, tidak lupa kita mengantisipasi perubahan yang akan terjadi. Bolehlah kita berencana secukupnya dengan tetap menyadari bahwa masa depan bisa saja berubah sesuka hati. Namun, Rasulullah SAW mengatakan, dalam seuatu hadits, "Kewaspadaanmu tidak ada gunananya dalam menghadapi takdir. Doalah yang berguna untuk mengantisipasi musibah yang turun maupun yang belum turun." 

Perubahan akan terus dialami.

Kehilangan momen, barang, seseorang adalah biasa. Hal itu akan terus terjadi selagi kita hidup. Dan dirimu yang membaca ini pasti kelak akan mengalami perubahan. Jika hal buruk yang menghampiri, janganlah disesali. Sudah menjadi jalan cerita yang pasti apa-apa yang sudah terjadi ini. Jika kebahagiaan yang menghampiri, janganlah tenggelam dalam bungah hati, nanti akan sulit bagimu untuk muncul ke permukaan kembali.


Sekarang, untukmu yang sedang susah, ayo semangat! Kesulitan dan kesedihan yang dirasa ini tidak akan bertahan selamanya. Saat ini bertahanlah. Nikmati prosesnya. Pasti bisa!

Untukmu yang sedang senang, bersyukurlah! Semoga panjang umur bahagia yang dirasa. Tapi jangan kaget jika nanti rasa gembira menjadi sirna. Berbahagialah sewajarnya.




Komentar

  1. Masyaallah..... Bening anak hebat kuat dan pasti bisa melalui ini semua.. Allah menuntunmu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita