The Silent Man #1: Rasaku Bukan Rasamu
Betapa kecil sesungguhnya manusia.
Betapa tidak signifikannya diri kita dibandingkan alam semesta.
Betapa keberadaan kita tak lain dan tak bukan hanyalah debu kosmik yang singgah sebentar sebelum tersapu oleh angin bernama kematian.
Sabtu lalu, ayah saya berpulang. Tentu hal ini merupakan peristiwa yang membuat saya terpukul. Belum menginjak kepala lima, ayah sudah diminta untuk kembali ke haribaan Sang Ilahi di surga. Dengan untaian senyuman sebelum disemayamkan, beliau seakan mengatakan "Semua baik-baik saja. Kini tidak ada lagi derita."
Sudah barang tentu bahwa ayah berperan banyak dalam kehidupan saya. Bukan hanya perkara menafkahi, tapi juga menginspirasi. Melepas ayah tidaklah mudah, namun saya harus bisa.
Tapi, hidup masih terus berjalan. Meski tangis tak bisa lagi dibendung, burung masih saja bersenandung. Meski hati ini membiru, matahari masih saja bersinar begitu. Meski sakit hati saya ditinggal untuk selamanya, orang-orang masih beraktivitas seperti biasa.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk egois.
Selama tidak mempengaruhi jalan hidupnya, sesuatu tak akan manusia pikirkan, termasuk meninggal dunianya seseorang yang tidak berperan dalam kehidupannya.
Bahkan nanti di hari pembalasan manusia hanya akan memikirkan dirinya sendiri.
Memang sesekali rasanya sedih melihat apa-apa di sekitar saya masih berjalan. Orang-orang masih tertawa. Teman-teman masih berkarya. Tempat umum masih buka. Apa yang berubah di luar sana? Tidak ada. Padahal hati ini masih kelabu, sesekali pilu menetes akibat membayangkan almarhum disemayamkan.
Tapi saya tahu, meninggalnya ayah bukan berarti bumi ikut runtuh, ia masih terus berputar.
Maka sudahlah tentu saya tak boleh berharap lebih. Atau siapapun itu tak boleh berharap bahwa apa yang dirasa haruslah dirasa oleh orang lain pula. Seterpuruk apapun keadaan seseorang tak mengubah apa yang dialami orang lain, pada dasarnya.
Berempati tetaplah perlu. Namun masing-masing orang sudah memiliki kadarnya sendiri. Ada yang empatinya seluas samudera, ada juga yang bagai setetes air.
Dan lagi,
tidak ada gunanya berharap pada sesama manusia.
Tugas kita hanyalah berusaha hidup sebaik-baiknya. Perihal manusia memberikan timbal balik sesuai dengan apa yang diharap, itu hanyalah bonus saja. Selebihnya, ketahuilah bahwa ada jutaan jiwa manusia dan diri kita salah satunya. Kita tidak terlalu penting, sekalipun berwibawa paling tinggi sejagat raya.

Komentar
Posting Komentar