Selayaknya Diri Kita
Sore itu adalah salah satu dari beberapa waktu dimana saya harus berpisah dengan keluarga. Sore itu adalah momen penyadaran bahwa saya akan kembali hidup sendiri dalam keseharian. Sore itu terik, namun diteduhkan hujan beberapa menit kemudian. Hijau pohon menjadi kabur dan kelam. Rasanya dingin, namun menyenangkan. Langit kelabu bak menitikkan air mata. Rasanya kuyup, namun menyegarkan.
“Apakah
saya layak mendapatkan apa yang saya miliki saat ini?”
Pernahkah kalian
juga bertanya demikian?
Heran rasanya,
bisa mendapatkan rezeki yang berlimpah. Kaget rasanya, mendapatkan hadiah dari
seorang sahabat yang harganya tidak ternilai. Perasaan itu tidak melulu berupa
materi. Janggal rasanya, merasa begitu bahagia saat sedang berkumpul bersama keluarga
dan sahabat. Mengganjal rasanya, merasakan nikmatnya jatuh cinta.
Apakah kita
layak mendapatkan atau merasakan itu semua?
Hal itulah
yang seringkali terbesit dalam hati saya.
Apa yang
telah saya lakukan sehingga saya bisa merasakan ‘kebaikan’?
Mari kita
sepakati bahwa definisi ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ yang kita pakai adalah
definisi tipikal yang dipakai oleh menusia.
Seringkali
kita mendapatkan anjuran untuk menerima ‘keburukan’. Namun tidak sering kita
mendengarkan ujaran untuk menerima ‘kebaikan’ yang kita miliki.
Saya akui
bahwa saya masih berproses dalam menerapkan keduanya: menerima keburukan dan
menerima kebaikan.
Menerima Keburukan
Pernah dengar self-acceptance? Atau mungkin self-love? Menerima diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Perilaku ini termasuk menerima kekurangan ayang kita miliki.
Menerima kekurangan
adalah mengenai penyadaran bahwa manusia, tidak terkecuali diri kita, adalah
makhluk yang tidak sempurna. Dilihat dari sisi tertentu atau bahkan semua sisi,
seseorang pasti memiliki kekurangan. Hal ini tidak mengapa. Manusia memang bukan
diciptakan sebagai sosok yang sempurna.
Dari berbagai
keuntungan yang didapatkan dari menerima diri sendiri, termasuk keburukan yang
kita miliki, 2 hal yang saya paling sukai:
1. Menerima keburukan kita menjadikan
kita tidak peduli dengan omongan orang lain
Kita hidup di zaman dimana definisi kebahagian, kecukupan, kebaikan, apapun
itu ditentukan oleh orang lain. Orang-orang tersebut tidak tahu-menahu bahwa apapun
itu yang mereka definisikan memiliki pengertian yang berbeda antara manusia
satu dengan lainnya. Dengan menerima keburukan yang kita miliki atau terima,
kita tidak lagi peduli apakah orang lain mempermasalahkan hal itu atau tidak. Hal
ini karena kita sudah selesai dalam mempermasalahkan keburukan tersebut. Kita sudah
menerima dan bahkan hidup bersamanya.
2. Mencintai diri sendiri dapat
menjadikan kita mencintai orang lain dengan lebih baik
Tanpa mempermasalahkan keadaan diri kita dan terus-menerus membenci diri
kita, kita bisa memberikan energi dan fokus kita untuk mencintai orang lain. Selain
itu, identifikasi akan keburukan dalam diri kita dan penerimaannya akan membuat
kita juga lebih mudah menerima kondisi orang lain. Kita jadi memiliki waktu
untuk mencoba memahami kondisi seseorang. Kita belajar untuk mengerti dan
sedikit memaklumi kondisi. Sekalipun kita ingin membantu mereka mengubah
keburukan yang sehrusnya diubah, pendekatan yang kita lakukan akan lebih lembut
dan bersahabat.
Menerima keburukan
diri bukan merupakan suatu hal yang mudah. Hal itu merupakan proses yang
berkelanjutan yang bahkan tidak ada kata selesai untuknya. Jika kita bicara
dalam perspektif agama, bersabar dan bersyukur adalah kunci. Bersabar adalah
tahap awal sebelum kita bisa menerima kondisi diri kita seutuhnya. Bersyukur adalah
bentuk penerimaan dan bahkan merupakan pendekatan jangka Panjang akan keburukan
yang kita miliki.
Menerima Kebaikan
Selanjutnya,
kemampuan menerima kebaikan tidak kalah sulit dengan menerima kekurangan.
Senang ya
rasanya menikmati kebaikan yang kita dapatkan? Kita sudah berupaya maksimal
untuk bisa meraih kebaikan yang saat ini kita rasakan. Menarik bagaimana
manusia memiliki tendensi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, entah itu
posisi, kekayaan, kebahagiaan, apapun itu. Manusia akan melakukan segala
sesuatu untuk bisa memuaskan dirinya. Terkadang, manusia menghalalkan segala
cara asalkan dirinya merasa puas. Ada sebuah motto hidup yang pernah saya
pegang, yaitu Strive for Greatness. Untuk mencapai sebuah keagungan
diperlukan usaha yang keras. Hal ini tidaklah salah, namun juga tidak seutuhnya
benar. Kerja keras boleh jadi salah satu factor dalam meraih kebaikan. Namun, tanpa
adanya batasan berupa perspektif lain, pernyataan ini akan membutakan manusia
dan menjadikan manusia sombong.
Usaha yang
kita lakukan dalam mencapai kebaikan tidak akan mungkin tanpa kesempatan dan
kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Benar, perspektif lain yang saya
tawarkan berbasis keimanan. Bayangkan jika Tuhan tidak meridhai kita merasakan kesehatan.
Mungkin kita tidak bisa mengerjakan pekerjaan kantor, melakukan kegiatan
produktif, ataupun upaya lain untuk mencapai kebaikan yang kita harapkan.
Selain itu,
pada akhirnya, kebaikan yang kita terima merupakan porsi kiti dari Sang Maha
Pemurah. Sebagai seseorang yang beriman, saya percaya bahwa kebaikan yang kita
dapatkan adalah bukan semata-mata karena kita pribadi, melainkan merupakan nikmat
dari Sang Pencipta. Menerima kelebihan berarti yakin bahwa kebaikan yang kita
terima adalah benar porsi kita. Kita tidak menyangkal ‘kuota’ kebaikan yang memang
kita punya. Perspektif ini mungkin tidak mudah diterima bagi kaum yang tidak
mempercayai keberadaan Tuhan. Namun, mempercayai hal ini membuat kita tetap
rendah hati dan menyadari bahwa ada Zat yang lebih berkuasa dan berkehendak
akan sesuatu. Hal ini menjadikan kita tetap ‘berada di atas tanah’. Hal ini menjadikan
kita memanusiakan diri sendiri.
Hanya Sementara
Perjalanan
dalam penerimaan kebaikan ataupun keburukan menawarkan dinamika tersendiri bagi
kita, manusia. Namun patut diingat bahwa keduanya bersifat sementara. Beberapa di
antaranya bisa berubah. Maka, manusia harus bersiap dengan fluktuasi yang ada. Manusia
harus kuat jika hendak mengubah keadaan mereka. Manusia juga harus menyadari
bahwa dirinya bukan satu-satunya penyebab suatu kondisi menimpanya. Dengan pikiran
demikian, semoga kita semua tidak berlarut-larut ataupun terlena dengan keadaan
yang kita rasa.

Komentar
Posting Komentar