Selayaknya Diri Kita


Sore itu adalah salah satu dari beberapa waktu dimana saya harus berpisah dengan keluarga. Sore itu adalah momen penyadaran bahwa saya akan kembali hidup sendiri dalam keseharian. Sore itu terik, namun diteduhkan hujan beberapa menit kemudian. Hijau pohon menjadi kabur dan kelam. Rasanya dingin, namun menyenangkan. Langit kelabu bak menitikkan air mata. Rasanya kuyup, namun menyegarkan.


Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa saya bisa dengan leluasa memilih kereta api eksekutif untuk bepergian jauh. Bahkan tidak pernah juga terpikirkan oleh saya bahwa saya bisa sesering itu bermobilisasi dari kampung halaman ke Ibukota. Kursi yang nyaman dan suasana yang syahdu menjadikan saya berkontemplasi.

“Apakah saya layak mendapatkan apa yang saya miliki saat ini?”

Pernahkah kalian juga bertanya demikian?

Heran rasanya, bisa mendapatkan rezeki yang berlimpah. Kaget rasanya, mendapatkan hadiah dari seorang sahabat yang harganya tidak ternilai. Perasaan itu tidak melulu berupa materi. Janggal rasanya, merasa begitu bahagia saat sedang berkumpul bersama keluarga dan sahabat. Mengganjal rasanya, merasakan nikmatnya jatuh cinta.

Apakah kita layak mendapatkan atau merasakan itu semua?

Hal itulah yang seringkali terbesit dalam hati saya.

Apa yang telah saya lakukan sehingga saya bisa merasakan ‘kebaikan’?

Mari kita sepakati bahwa definisi ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ yang kita pakai adalah definisi tipikal yang dipakai oleh menusia.

Seringkali kita mendapatkan anjuran untuk menerima ‘keburukan’. Namun tidak sering kita mendengarkan ujaran untuk menerima ‘kebaikan’ yang kita miliki.

Saya akui bahwa saya masih berproses dalam menerapkan keduanya: menerima keburukan dan menerima kebaikan.


Menerima Keburukan

Pernah dengar self-acceptance? Atau mungkin self-love? Menerima diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Perilaku ini termasuk menerima kekurangan ayang kita miliki.

Menerima kekurangan adalah mengenai penyadaran bahwa manusia, tidak terkecuali diri kita, adalah makhluk yang tidak sempurna. Dilihat dari sisi tertentu atau bahkan semua sisi, seseorang pasti memiliki kekurangan. Hal ini tidak mengapa. Manusia memang bukan diciptakan sebagai sosok yang sempurna.

Dari berbagai keuntungan yang didapatkan dari menerima diri sendiri, termasuk keburukan yang kita miliki, 2 hal yang saya paling sukai:

1.       Menerima keburukan kita menjadikan kita tidak peduli dengan omongan orang lain

Kita hidup di zaman dimana definisi kebahagian, kecukupan, kebaikan, apapun itu ditentukan oleh orang lain. Orang-orang tersebut tidak tahu-menahu bahwa apapun itu yang mereka definisikan memiliki pengertian yang berbeda antara manusia satu dengan lainnya. Dengan menerima keburukan yang kita miliki atau terima, kita tidak lagi peduli apakah orang lain mempermasalahkan hal itu atau tidak. Hal ini karena kita sudah selesai dalam mempermasalahkan keburukan tersebut. Kita sudah menerima dan bahkan hidup bersamanya.

2.       Mencintai diri sendiri dapat menjadikan kita mencintai orang lain dengan lebih baik

Tanpa mempermasalahkan keadaan diri kita dan terus-menerus membenci diri kita, kita bisa memberikan energi dan fokus kita untuk mencintai orang lain. Selain itu, identifikasi akan keburukan dalam diri kita dan penerimaannya akan membuat kita juga lebih mudah menerima kondisi orang lain. Kita jadi memiliki waktu untuk mencoba memahami kondisi seseorang. Kita belajar untuk mengerti dan sedikit memaklumi kondisi. Sekalipun kita ingin membantu mereka mengubah keburukan yang sehrusnya diubah, pendekatan yang kita lakukan akan lebih lembut dan bersahabat.

Menerima keburukan diri bukan merupakan suatu hal yang mudah. Hal itu merupakan proses yang berkelanjutan yang bahkan tidak ada kata selesai untuknya. Jika kita bicara dalam perspektif agama, bersabar dan bersyukur adalah kunci. Bersabar adalah tahap awal sebelum kita bisa menerima kondisi diri kita seutuhnya. Bersyukur adalah bentuk penerimaan dan bahkan merupakan pendekatan jangka Panjang akan keburukan yang kita miliki.


Menerima Kebaikan

Selanjutnya, kemampuan menerima kebaikan tidak kalah sulit dengan menerima kekurangan.

Senang ya rasanya menikmati kebaikan yang kita dapatkan? Kita sudah berupaya maksimal untuk bisa meraih kebaikan yang saat ini kita rasakan. Menarik bagaimana manusia memiliki tendensi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, entah itu posisi, kekayaan, kebahagiaan, apapun itu. Manusia akan melakukan segala sesuatu untuk bisa memuaskan dirinya. Terkadang, manusia menghalalkan segala cara asalkan dirinya merasa puas. Ada sebuah motto hidup yang pernah saya pegang, yaitu Strive for Greatness. Untuk mencapai sebuah keagungan diperlukan usaha yang keras. Hal ini tidaklah salah, namun juga tidak seutuhnya benar. Kerja keras boleh jadi salah satu factor dalam meraih kebaikan. Namun, tanpa adanya batasan berupa perspektif lain, pernyataan ini akan membutakan manusia dan menjadikan manusia sombong.

Usaha yang kita lakukan dalam mencapai kebaikan tidak akan mungkin tanpa kesempatan dan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Benar, perspektif lain yang saya tawarkan berbasis keimanan. Bayangkan jika Tuhan tidak meridhai kita merasakan kesehatan. Mungkin kita tidak bisa mengerjakan pekerjaan kantor, melakukan kegiatan produktif, ataupun upaya lain untuk mencapai kebaikan yang kita harapkan.

Selain itu, pada akhirnya, kebaikan yang kita terima merupakan porsi kiti dari Sang Maha Pemurah. Sebagai seseorang yang beriman, saya percaya bahwa kebaikan yang kita dapatkan adalah bukan semata-mata karena kita pribadi, melainkan merupakan nikmat dari Sang Pencipta. Menerima kelebihan berarti yakin bahwa kebaikan yang kita terima adalah benar porsi kita. Kita tidak menyangkal ‘kuota’ kebaikan yang memang kita punya. Perspektif ini mungkin tidak mudah diterima bagi kaum yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Namun, mempercayai hal ini membuat kita tetap rendah hati dan menyadari bahwa ada Zat yang lebih berkuasa dan berkehendak akan sesuatu. Hal ini menjadikan kita tetap ‘berada di atas tanah’. Hal ini menjadikan kita memanusiakan diri sendiri.


Hanya Sementara

Perjalanan dalam penerimaan kebaikan ataupun keburukan menawarkan dinamika tersendiri bagi kita, manusia. Namun patut diingat bahwa keduanya bersifat sementara. Beberapa di antaranya bisa berubah. Maka, manusia harus bersiap dengan fluktuasi yang ada. Manusia harus kuat jika hendak mengubah keadaan mereka. Manusia juga harus menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya penyebab suatu kondisi menimpanya. Dengan pikiran demikian, semoga kita semua tidak berlarut-larut ataupun terlena dengan keadaan yang kita rasa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita