The Silent Man #5: Nada Panggilan
Salah satu hal lucu yang aku sadari setelah kepergianmu adalah bagaimana aku memanggil diriku dengan nada yang biasa kau gunakan saat memanggil namaku.
Bee-ni-i-ing~
Layaknya nada yang digunakan oleh seorang teman yang mengajak bermain di siang bolong sepulang sekolah. Lugu dan membuat penasaran.
Aku belum mafhum dengan mekanisme kematian. Aku pun enggan mengerti akannya. Apakah kau bisa melihatku dari kejauhan, menyaksikanku bertingkah sebagian besar mengecewakan? Atau kita dibatasi tembok tinggi di antara 2 dimesi yang berbeda?
Yang jelas adalah aku selalu memanggil namaku sendiri ketika gundah melanda atau panik datang tiba-tiba. Aku menyebut namaku sendiri untuk menenangkan diri. Panggilan namaku bagai pelukan yang meredam emosi. Panggilan namaku bagaikan suatu kontrol diri.
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa nada panggilanku terhadap diriku sendiri adalah seperti nada yang kau pakai ketika memanggilku ke papan tulis di ruang kerjamu untuk mendengarkan letupan ide dari kepalamu yang cemerlang. Seperti nada yang kau gunakan saat mengecek apakah aku sedang melakukan kegiatan yang produktif di kamar. Seperti nada yang kau bunyikan ketika sekadar memeriksa apakah aku sedang terjaga.
Aku mendengarmu setiap aku memanggil diriku sendiri.
Jawabannya ada 2: aku tenang atau aku malah menangis sadar.
Panggilanmu masih terngiang dalam kepala. Sudah lewat 1 tahun kau meninggalkan aku di dunia. Namun panggilanmu yang tiba-tiba tetap aku damba, meskipun kadang aku jengkel akannya.
Panggilanmu yang tak disangka tetap aku harapkan, meskipun kadang aku takut mendengarnya. Panggilanmu yang bukan sepertimu membuat aku rindu.
Wajibku adalah melepasmu. Namun izinkan aku merasakan sesuatu yang jarang aku izinkan diriku sendiri untuk rasakan: menyedihkan.
Aku harap aku bisa mendengarmu memanggilku dengan nada yang sama di surga. Kita akan bercerita tentang apa yang tidak kita saksikan bersama. Mungkin ada papan tulis di sana dan kau bisa menggambar rasa dengan leluasa.

Komentar
Posting Komentar