Menerima




Kepada Yang Maha Berencana..

Aku sangat gemar berencana juga. 

Jika manusia melihat bagaimana agenda tersusun baik bersamaku, mereka akan takjub. Sudah bisa terbayang apa-apa yang mungkin terjadi. 

Halang, rintang, kejutan, hadiah, apapun yang membuat orang terperanjat, bisa kulukis dalam kepalaku yang kecil ini.

Namun, jika yang ditulis pena malah menepi dari jalannya, barangkali aku seperti lupa diri. 

Susah payah kurangkai dengan indah, rencana masih saja tercegah. Sudah disusun sedemikian rupa, namun aku lupa.

Engkau tengah menyapa.

"Wahai Hamba, tidak ingatkah ada aku dalam setiap goresan penamu dalam merangkai wacana? Dan dalam kehendakKu lah apa-apa menjadi nyata?"

Aku tertunduk mengiyakan segala, menabir muka yang tak tahu diuntung dan dibersamai. Aku akhirnya sadar diri.


Kepada Yang Maha Tahu..

Aku adalah tidak ada. Yang kutahu adalah hampa. 

Lancang aku bila ikrarkan mafhum. Dan mata batinku tertutup pintu berdentum.

Aku dipaksa untuk menyadari, yang kukata sudah tahu-menahu ternyata belum.


Kepada Yang Maha Indah..

Pesona adalah segalaMu. Pun akhir bagiku. 

Meski terhalang netra dengan kecewa, aku tahu hadiah menantiku di sana.

Meski terpercik jiwa dengan amarah, Dirimu menemuiku di sana.

Indah ialah Engkau. dan aku tak ragu.

Apa yang Kau porsikan untukku akan berakhir bahagia.

Dan siapa yang tahu apa yang menungguku dalam pendarnya.


(Tersimpan sejak 12 April 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita