Mahasiswa Rantau UI di Tengah Kontroversi Corona Virus
Semalam, warga Universitas Indonesia dihebohkan dengan adanya kebijakan serius terkait dengan epidemi corona virus yang sedang terjadi. UI yang berlokasi di titik bertemunya Depok dan Jakarta, dua area yang mana terdapat banyak kasus penderita virus corona di dalamnya, tentu harus mengambil kebijakan. Sejak 1 hingga 2 minggu lalu, teman-teman banyak mendiskusikan tentang bagaimana nantinya perkuliahan kami. Kasarnya, teman-teman sudah mempertanyakan, "Kapan kita diliburin ya?", meskipun dalam hati kecil kami, kami tahu bahwa liburnya UI terkait corona ini menunjukkan betapa seriusnya kasus ini terjadi. Kami sudah meyakini bahwa ada kemungkinan kasus corona virus memburuk. Hal ini kemudian memungkinkan UI untuk mengambil sebuah kebijakan, yang salah satunya dapat berupa kuliah jarak jauh. Dan benar saja, smealam, hebohnya warga UI adalah kebijakan pusat UI untuk menjadikan perkuliahan menjadi secara jarak jauh.
Tanggal 23 hingga 29 Februari, sebenarnya saya harus berada di Singapura untuk menghadiri sebuah acara. Namun pada saat itu, Singapura sedang marak akan kasus virus corona ini. Bahkan seingat saya, kasusnya lebih kecil jumlahnya dari kasus Indonesia per hari ini. Saat ini saya sudah khawatir bagaimana jadinya saya jika ke Singapura di tengah kasus virus corona sedang terjadi. Namun alhamdulillah, kegiatan yang hendak saya ikuti mengambil kebijakan untuk diundur di waktu yang lebih aman. Saat itu Indonesia "katanya" masih aman sentosa saja. Namun sesungguhnya, terbesit di hati saya, Indonesia berkemungkinan akan sekondisi dengan Singapura saat itu, karena tidak mungkin bahwa Indonesia yang dekat dengan negara-negara yang sudah banyak tertular virus corona masih aman-aman saja. Astaghfirullah, begitulah, saya suudzon duluan. Tapi qadarullah memang begitu adanya saat ini.
Sebagai anak rantau dan anak semester 4 Teknik Lingkungan, kebingungan saya lebih kompleks lagi. Saya bukan bermaksud mengentengkan kondisi orang lain ya. Anak rantau tentu bingung, apakah mereka bisa pulang kampung atau tidak. Meskipun UI sudah menetapkan bahwa per 18 Maret hingga semester genap berakhir, perkuliahan akan dilakukan jarak jauh, Namun dalam pikiran kami, kami takut akan ada perubahan kebijakan yang mengharuskan kami untuk kembali ke UI.
Kalau boleh jujur, salah satu pertimbangannya adalah uang. Pastinya kami sebagai anak rantau membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk biaya transportasi pulang pergi. Tapi lain cerita bagi anak rantau Sultan hmm..
Selain itu, di semester 4 per-lingki-an (teknik lingkungan disingkat "lingki" oleh saya dan teman-teman TL UI) ini, banyak sekali praktikum yang harus saya lakukan. Bahkan untuk sebuah mata kuliah, setelah UTS usai, hampir semua jam perkuliahan (atau bahkan 100% ya?) dilakukan dalam bentuk praktikum. Mungkin teman-teman teknik atau MIPA ada yang seperti ini juga. Kemarin, saya mendapatkan kabar bahwa salah satu praktikum Teknik Sipil, saudara Teknik Lingkungan di FT UI mengingat bahwa kedua jurusan ini satu departemen, tetap dilaksanakan dan pihak penyelenggara praktikum hanya menyarankan pencegahan yang bisa dilakukan oleh masing-masing individu, tidak ada pembatalan. Saya jadi berprasangka bahwa praktikum saya akan berjalan terus begitu saja.
Sebenarnya, kalau tidak pulang, banyak hal yang bisa saya lakukan. Bahkan saya juga tidak perlu keluar biaya transportasi. Tapi sayangnya, saya harus keluar biaya hidup. Kemudian, sesungguhnya, saya juga harus memperhatikan tentang adanya potensi penularan yang lebih tinggi jika saya tinggal.
Ah, semuanya terlalu membingungkan. Saya sendiri terheran-heran, prasangka saya saat wabah corona ini menyerang Singapura benar-benar terjadi. Keadaan benar-benar sudah genting, hingga mendorong universitas mengambil kebijakan perkuliahan jarak jauh hingga semester berakhir, bukan beberapa minggu saja. Demi Allah, saya takut, takut akan semuanya, Takut akan adanya potensi penularan yang tinggi. Takut bagaimana perkuliahan saya ini bentuknya, apakah lebih sulit atau lebih mudah. Takut apakah saya bisa pulang kampung. Takut apakah bijak jika saya pulang kampung.
Allah ini benar-benar kuasanya besar sekali ya? Begitu mudahnya menjadikan manusia diuji dengan virus corona ini. Mungkin Allah ingin melihat reaksi kita bagaimana menanggapi hal ini, apakah bersyukur, apakah mengumpat, apakah ya sudah saja. Apakah diam, apakah berdoa, apakah malah marah-marah sembarangan. Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus dan menunjukkan kita tentang apa yang harus kita ambil hikmahnya dari pengalaman ini. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.
Jadi? Apa kakak sekarang sudah pulang atau masih di perantauan?
BalasHapusakhirnya pulang. saat ini sudah 5 minggu berada di rumah. waktu itu pulang kurang lebih 5 hari setelah adanya surat edaran dari kampus bahwa PJJ akan diadakan hingga semester genap berakhir, tepat setelah hari terakhir praktikum diadakan, belum ada larangan mudik dan kasus di depok masih sekitar 50 kasus. tapi tenang, sampai rumah nggak berani bersentuhan dengan orang rumah, bahkan ke ortu pun nggak cium tangan. selama 14 hari karantina mandiri, full berkegiatan di kamar pribadi, tidak keluar2 kecuali ke kamar mandi. makan minum selalu diantarkan bak tuan putri hehehe.. alhamdulillah sampai saat ini keluarga sehat semua.
Hapus