Menjadi Ibu Guru Bening di GUIM 9


“Ibu! Ibu Guru Bening!”

Tidak pernah terbesit dalam benak saya, bahwa saya, seseorang yang memiliki segala keterbatasan dan ketidakpantasan, memiliki kesempatan untuk dipanggil dengan sebutan yang begitu mulia, “Ibu Guru”. Sebutan “Ibu” tentulah begitu agung kala didengungkan karena sosok yang digambarkan merupakan seorang perempuan yang lembut hatinya, teguh pendiriannya, tegar karakternya, dan luas kasihnya. Begitu mulianya seorang ibu sehingga kebahagiannya merupakan kebahagiaan alam semesta. “Guru”, sebutan untuk seseorang yang memberikan ilmu kepada orang lain yang disebut murid, merupakan sebuah cita-cita yang sangat saya kagumi. Tidak hanya ilmu, sejatinya, apa yang diberikan oleh guru sungguh jauh lebih luas, mencakup nasihat, amanat, teladan, hingga inspirasi. “Ibu Guru” sangatlah memegang definisi yang begitu mulia. Meskipun tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk menggamit gelar tersebut dan walau sesungguhnya kepantasan belum saya miliki, memiliki kesempatan menjadi Ibu Guru Bening adalah pengalaman yang tidak pernah saya lupakan.

Pagi itu, 7 Januari 2020, jantung saya berdegup kencang, keringat dingin di tangan terus bercucuran, dan saya menghela sebanyak-banyaknya helaan napas. Saya demam panggung! Hari itu adalah hari pertama saya berangkat ke SDN 44 Krui, sekolah yang akan menjadi tempat saya mengabdi selama 3 pekan sebagai Pengajar GUIM 9, bertemu dan berkenalan dengan guru serta siswa, dan menjadi moment of truth tentang keadaan sekolah tersebut. Guru yang saya kenali pertama kali merupakan seorang sosok yang teduh matanya, yang dengan cerita beliau, saya makin bersemangat mengajar, meski tidak semua yang beliau ceritakan berupa kisah-kisah manis saja. Namun kemudian, sungguh, tidak ada yang membuat hati saya lebih terenyuh dibandingkan dengan tatapan anak-anak SDN 44 Krui yang nantinya menjadi murid, teman, dan bahkan berbalik menjadi guru saya.

Tiga pekan saya dipenuhi oleh hal-hal yang tidak terduga, terutama oleh murid-murid saya. Setiap harinya, kami belajar di kelas dengan bersemangat. Terkadang, di sore hari, kami bersua untuk bersama-sama membaca buku di sebuah gubuk di perempatan jalan ataupun bermain sepak bola di halaman rumah orang. Dan yang tidak kalah seru, beberapa kali kami berenang di sungai dan berpiknik di tepi sungai dengan memakan bekal makanan masing-masing.

16 murid saya mewakilkan 16 jenis karakter yang saya harus hadapi. Saya sungguh menikmati sikap ramah dan ceria dari Deli. Saya ikut bersemangat melihat sikap ambisius Jessica. Saya senang mendapati murid yang cerdas seperti Liana. Saya terinspirasi akan betapa tegarnya Nani yang harus menjadi sosok pengganti ibu di rumahnya. Betapa saya ingin berlama-lama bercengkrama dengan Serli yang istimewa. Betapa lembut dan manisnya murid saya yang bernama Sanah. Saya selalu mengingat senyuman lebar Ayum. Saya juga tidak akan pernah lupa sikap Nurul yang begitu anggun. Indra, sosok mungil yang sangat menyayangi ibunya, memberikan kesan khusus bagi saya. Terkadang, saya kalah semangat dengan murid saya yang bernama Sadid. Rizki, murid saya yang satu ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saya bersyukur dapat bertemu Ridho, murid yang gemar bersholawat dan melindungi adiknya dengan perkasa. Saya takjub melihat Andika yang tidak banyak bicara namun selalu menautkan pandangan kepada saya. Saya kagum dengan Alam, murid saya yang menyenangkan hati karena kecerdasan dan ketangguhannya. Sungguh senang rasanya saya bisa bekerjasama dengan Angga, sang ketua kelas yang baik hati dan menggemaskan. Last but not least, tidak ada hari yang terlewat tanpa senda gurau saya bersama Kardi. Merekalah malaikat-malaikat kecil penggugah diri saya untuk makin belajar, bersabar, dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Merekalah yang pada akhirnya menjadi guru yang msemberikan banyak pelajaran berharga bagi saya.

Di balik itu semua, pengalaman menjadi Ibu Guru Bening ini membuat saya teringat akan seluruh guru saya. Betapa mulia seorang guru, menghadapi murid-murid dengan berbagai karakter dan cobaan, dengan tingginya ilmu yang dimiliki, dan dengan lapangnya hati untuk mencurahkan kasih sayang. Doa saya hanya satu: semoga–siapapun engkau, yang muda atau tua, yang bergelar guru sungguhan ataupun guru semu, yang pantas atau tidak pantas disebut guru–ilmu apapun yang engkau tabur, bagaimanapun bentuknya, kelak dapat bermanfaat bagi orang lain dan menjadi penolong dirimu di kehidupan selanjutnya.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita