Menyambut Bening yang Lebih Bening
Tahun 2020 merupakan tahun yang berisi kejutan-kejutan bagi saya, Bening. Salah satu kejutan yang saya hadiahkan untuk diri saya sendiri adalah mendaftarkan diri dan menjadi penerima beasiswa Rumah Kepemimpinan X Jakarta. Seorang Bening yang awalnya meragukan diri dan menafikkan keinginannya untuk dikelilingi orang-orang hebat karena rendah diri akhirnya memutuskan untuk bergabung dalam keluarga yang sungguh memberikan kejutan yang lebih lagi baginya.
Tahun ini, “rumah” dari Rumah Kepemimpinan kesepian. Covid-19
menyerang, akhirnya mengharuskan kami para awardee untuk melaksanakan pembinaan
di rumah masing-masing. Sepi, namun tetap berarti.
Sudah kurang lebih bulan saya ditempa bersama 27 mahasiswi
UI lain. Ya, 27, padahal seharusnya 29. Namun, hidup adalah perkara adaptasi,
beraksi, dan takdir sang Ilahi. Sebanyak 2 mahasiswi lain tidak ditakdirkan
untuk membersamai kami lagi. Saya sangat bersyukur masih bisa bersama dengan
saudari-saudari yang saat ini masih berjuang bersama.
Pagi hari kini semakin awal diawali. Qiyamul lail tidak hanya
didorong oleh ibu di rumah karena teman-teman squad siap menemani. Menyenangkan
rasanya merasa tidak sendiri. Semangat dalam diri semakin berapi-api untuk
berlomba dalam kebaikan dan saat kesusahan kami dapat saling berbagi. Tapi tetap
saja, ada beberapa waktu dimana kemalasan melanda dan ketiduran terjadi.
Agenda-agenda pagi yang mengharuskan tatap muka juga semakin
menambah dinamika. Meskipun mau tidak mau izin kepada ibu untuk sementara tidak
bisa membantu menyiapkan sarapan, namun banyak wawasan dan tentunya peningkatan
kedisiplinan didapatkan. Menatap wajah rekan-rekan seperjuangan membuat saya
lagi-lagi merasa tidak sendiri. Kami menghadapi masalah masing-masing dan kami
berjuang masing-masing setelah kami mematikan telepon konferensi.
Dalam keseharian pun, amalan harian selalu didorong. Banyak sekali
kelalaian yang disebabkan oleh diri sendiri. Prioritas urusan duniawi menjadi
masalah utama. Kadang-kadang kemalasan juga melanda. Beginilah buruknya sistem
dalam jaringan, tidak ada yang bisa menarik diri ini terutama secara fisik agar
bisa bangkit dan beribadah bersama. Namun, rekan seperjuangan yang tidak ada
bukan merupakan alasan. Perlu adanya peningkatan motivasi dan penyadaran diri
bahwa amalan harian akan menjadikan keseharian berjalan dengan lancar dan
berkah.
Agenda-agenda RK banyak yang mendatangkan orang-orang “raksasa”,
bukan besar lagi. Banyak sekali wawasan yang didapatkan dari mendengarkan kisah
dan materi mereka. Terbuka juga kesempatan untuk bisa mengontak dan berkoneksi
bersama mereka. Namun sayangnya, akibat adanya tabrakan agenda, fokus yang
diberikan tidak penuh. Tidak jarang pula kondisi fisik tidak bugar sehingga
agenda dilalui dengan rasa kantuk yang tidak terkalahkan. Bahkan pernah pula
ketiduran si tengah kegiatan. Agaknya munafik saat berkata bahwa agenda-agenda
ini memberikan guna yang banyak dalam diri padahal diri ini seringkali
meremehkan dan melalaikan apa yang diberikan. Maka, ke depannya, saya akan selalu
mengingatkan diri sendiri bahwa kesempatan yang saya miliki terkait dengan
agenda-agenda pembinaan terutama yang berkaitan dengan tokoh besar tidak banyak
dimiliki oleh orang sembarangan. Saya patut menyiapkan pribadi untuk bisa
menyerap sebanyak-banyaknya wawasan dan menggunakan sebanyak-banyaknya
kesempatan.
Yang tidak kalah seru adalah agenda kebersamaan. Tidak pernah
terbayangkan dalam diri saya bahwa saya mendapatkan saudara dan saudari baru
yang banyak sekali dan sangat menginspirasi. Ada yang ahli dalam urusan agama,
ada yang unggul dalam bidang IPA, ada yang hebat dalam bidang hukum, ada yang
sangat handal dalam berbicara di depan umum, dan masih banyak lagi kehebatan lainnya.
Beberapa kali diadakan kolaborasi dan saling menawarkan kesempatan kepada satu
sama lain. Tidak jarang saya juga meminta tolong kepada rekan-rekan yang
memiliki keunggulan di bidang yang saya butuhkan. Sebaliknya, saya juga
memberikan apa yang saya bisa. Bahkan yang spesial, terdapat Teman Hidup yang
senantiasa menanyakan kabar dan menyemangati. Sungguh indah relasi yang
terbentuk. InsyaAllah hingga surga kelak hubungan ini.
Menjadi penerima beasiswa RK merupakan perjalanan saya,
Bening, untuk menjadi semakin bening: bening pikiran serta bening hati. Semoga di
semester berikutnya, performa yang saya tunjukkan dapat meningkat terlepas dari
dinamika kehidupan yang saya alami.

Komentar
Posting Komentar