Kita Bukan Juru Kunci


Saat melihat seseorang, pernahkah kita berpikir "Duh, keras kepala banget sih!", "Hadeh, batu banget!", "Gak bisa kompromi sama orang lain deh!", "Kayaknya gak ada yang bisa ngubah pemikiran dia deh!"?

Baru-baru ini, saya dihadapkan dengan kondisi demikian. Di saat sudah jelas pendapat yang benar yang mana, orang yang saya hadapi ini malah memilih jalan yang tidak benar, malah dengan yakin dan meremehkan kami yang berada di jalan yang benar secara status quo tidak bisa diganggu gugat. Rasanya, apa lagi ya yang bisa membuat orang ini sadar bahwa dia harus mengikuti jalan yang benar? Semua bukti sudah jelas terpampang. Dari sana sini semua menunjukkan jalan benar adalah memang benar. Tapi begitulah, orang yang saya hadapi tak tergerak hatinya untuk berpindah jalur.

Meski rasanya saya membawakan cerita dengan amarah, tapi sungguh yang selalu terekspresikan adalah derai air mata. 
Bagaimana tidak? Kita tahu betul bahwa terdapat jalan yang benar. Kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan, merayu, bahkan sempat memaksa agar orang yang keliru jalannya agar mau beralih ke jalan kebenaran. Tapi apa daya. 
Sungguh rasanya bersalah sekali ketika ada orang lain, terutama orang yang kita kasihi, berada di jalan keburukan. Jalan yang tidak benar akan mengarahkan orang-orang yang melaluinya kepada keburukan-keburukan yang lebih jauh. Tentu kita tidak mau melihat orang tersayang mengarah ke sana, bahkan membayangkannya saja sudah tidak bisa.

Begitulah batasan kita sebagai manusia. Kita tidak berdaya untuk mengubah hati. Kita tidak mampu untuk menggerakkan pikiran. Kita tidak kuasa memberi nubuat.

Hal inilah yang saya temukan selama perjalanan saya menonton salah satu film series berjudul Omar yang secara garis besar menc
eritakan kehidupan Umar bin Khattab, salah satu khalifah dalam islam yang banyak sekali keteladanan yang bisa kita ambil dari beliau. Dalam kisahnya itu, tentu terdapat kisah perjuangan penerimaan islam.

Betapa gagah sosok Umar. Betapa tegas sikap umar. Betapa idealis pemikiran Umar. Pun betapa kolot orang-orang Quraisy yang menghina islam mati-matian. Selama menonton film, rasanya pasti akan sangat susah orang-orang yang sudah sangat tidak setuju dengan Nabi Muhammad menyebarkan ajaran islam itu untuk bisa mendapat hidayah. Betapa mereka meremehkan bahkan mencaci Nabi Muhammad yang sungguh mulia. Betapa tidak terbayang bagaimana mereka menjadi muslim.

Sudahlah jelas betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang amat jujur di kalangan Arab. Apapun yang dikata oleh Muhammad tentu adalah benar, itulah yang diyakini masyarakat Arab karena saking tidak pernahnya Muhammad berbuat tercela dan dusta. Namun saat Nabi Muhammad datang menyatakan beliau diberi wahyu oleh Allah dan bertugas untuk menyeru tauhid,  orang-orang yang keras kepala malah tidak percaya dengan hal tersebut. Nabi Muhammad disebut pembohong, penyihir, bahkan orang gila. 

Terlepas dari kebenaran islam yang saat ini nyata terlihat, fakta bahwa Muhammad adalah sosok paling jujur tentu harusnya membuat mereka yakin untuk mengikuti ajaran beliau. Untuk Umar, ditambah lagi dengan idealismenya tentang persatuan masyarakat Arab yang harus dipertahankan, menambah kegeramannya kepada Nabi Muhammad.

Umar bahkan sudah berada di titik ingin membunuh Nabi Muhammad. 

Namun, masyaAllah, betapa Allah adalah satu-satunya yang berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia, Umar terenyuh mendengar lantunan ayat suci Al-Quran hingga Ia batal menebaskan pedang ke Nabi Muhammad dan akhirnya ingin masuk ke dalam islam.

Umar, sosok yang sangar dan benci betul dengan Nabi Muhammad yang merupakan sosok utama yang menyampaikan kebenaran islam, malah akhirnya bisa luluh dengan keindahan Al-Quran yang akhirnya membawanya kepada kepercayaan akan Allah yang Maha Esa.
Umar, sosok yang menjadi simbol petinggi Quraisy yang menolak ajaran Nabi Muhammad, yang tak terbayang bagaimana Umar yang sempat menggembor-gemborkan agar tidak masuk islam malah beralih menjadi sosok yang snagat semangat berdakwah mengajak manusia masuk islam.

Lihat? Betapa ternyata Allah bisa saja menjadikan segala sesuatu terjadi, termasuk memberi hidayah bagi orang paling kolot sedunia sekalipun. Semua itu bagi Allah adalah mudah, tak berat sama sekali.

Namun ingat, betapa selalu ada perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad, yaitu dengan terus menyebarkan kebenaran hingga akhirnya salah satu ummatnya melantunkan ayat suci yang didengarkan tidak sengaja oleh Umar hingga Umar tertegun. Tidak hanya itu, doa pun dilantunkan Nabi Muhammad agar entah Abu Hakam atau Umar bisa masuk islam. Dan akhirnya Umar lah yang menjadi hamba terpilih Allah.

Sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini , asalkan Allah meridhoi. 
Termasuk bila teman-teman sekalian dihadapkan pada kondisi menginginkan seseorang berubah dari suatu keburukan. 
Seakut apapun sosok yang diharapkan berubah, sekuat apapun gembok yang mengunci hati seseorang, Allah mampu untuk membongkarnya, merombak arah hatinya, dalam sekejap mata!
Tinggal diri kita yang harus terus berikhtiar dan berdoa.

Maha Kuasa Allah dengan segala kehendak-Nya.
Semoga teman-teman sekalian dimudahkan dalam segala urusan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita