The Silent Man #2: Menyambut Kehilangan
Kehilangan merupakan sebuah hal yang sangat menyakitkan.
Kehilangan mampu memutus harapan yang sebelumnya berkobar dalam diri.
Kehilangan bisa membuat kita terpuruk dan susah untuk bangkit kembali.
Namun kehilangan adalah hal yang konstan terjadi.
Kehilangan terjadi banyak kali.
Seharusnya manusia sudah familiar dengan kehilangan. Hampir setiap saat kita mampu merasakan kehilangan. Dan kehilangan pun sudah terencana dan tinggal menunggu kejadian.
Namun mengapa kita masih saja begitu terkejut dengan kehilangan?
Menurut Alan Seale, orang yang spesial, barang, tempat, apapun itu yang memiliki kemungkinan untuk hilang menggerakkan sesuatu dalam diri kita. Ada sebagian dalam hati kita yang tergerak karena keberadaan hal-hal tersebut. Hal ini tentu menimbulkan suatu sensasi yang berbeda ketika apa yang menggerakkan bagian dalam hati kita tersebut hilang. Bagian dalam hati itu masih ada, namun yang menggerakkan kini sudah tiada.
Apakah tidak ada hal yang kita bisa lakukan selain berduka atasnya?
Berduka adalah hal yang wajar dalam menghadapi kehilangan. Hal yang berbeda yang dalam hal ini terjadi karena adanya perasaan sesuatu meninggalkan kita tentu mengukir perasaan yang tidak mengenakkan. Tertinggal sungguh tidak nyaman.
Tapi ingat, bukankah kehilangan sudah merupakan kepastian yang akan terjadi?
Mengetahui bahwa kehilangan adalah suatu kelumrahan yang kita tinggal menanti kapan datangnya merupakan kecakapan yang luar biasa hebat. Dengan memiliki kemampuan ini, berduka tidak akan menjadi respon utama dalam menyikapi kehilangan, melainkan menyambutnya bagaikan tamu yang pasti akan datang.
Menyambut kehilangan bagaikan menyambut rekan yang sudah pernah mengatakan bahwa dirinya suatu saat akan datang. Sedikit mengagetkan, tapi setidaknya dia sudah memberi peringatan.
Terkejut akan kedatangannya adalah suatu respon yang harusnya sesaat dilakukan. Menyambutnya yang dilanjutkan dengan beradaptasi dengannya serta bersahabat dengannya adalah apa yang perlu kita fokuskan.
Menyambutnya dengan berkata "Oh, kau datang juga rupanya." memang lebih sulit dibandingkan dengan "Kenapa kau datang sekarang?". Namun kehilangan akan lebih terhargai jika kita menyambutnya dengan cara yang pertama. Ingat, ia sudah peringatkan kita sejak awal.
Beradaptasi membutuhkan proses. Namun proses itulah yang terpenting, apakah kita berusaha atau tidak. Beradaptasi tak akan langsung membuahkan hasil berupa terbiasa dengan kehilangan. Perlahan-lahan kita akan bisa memaklumi kehadirannya dalam kehidupan.
Bersahabat dengan kehilangan adalah sebuah kenikmatan. Hal ini jauh lebih baik dari menerima kehilangan yang datang. Bersahabat artinya kita sudah baik-baik saja dengan keberadaan kehilangan. Bahkan menjadi sebuah hal yang baik bagi kita, seperti sahabat. Ia membantu kita mengingat bahwa segala momen berharga. Ia membantu kita lebih bersyukur. Makin banyak sahabat kita, makin kuat kita dalam mengarungi kehidupan.
Maka, sungguh luar biasa jika kehilangan adalah bagaiman tamu yang datang. Kita wajib menyambutnya dengan baik, beradaptasi dengan keberadaannya, dan bersahabat dengannya.
Sulit memang. Namun, jika kita menanggapi kehilangan dengan cara konvensional yaitu berduka saja, maka sengsara hidup kita karena kita akan banyak dihadapkan dengan kehilangan sesuatu yang kita cinta.
Selamat bersiap menyambut kehilangan!

Komentar
Posting Komentar