Temanku Menangis Sendirian
Ada satu hal yang paling aku takutkan untuk terjadi: Temanku menangis sendirian.
Akhir-akhir ini beberapa temanku bercerita kepadaku mengenai masalah mereka. Aku sangat senang. Bukan karena mereka memiliki masalah, tapi karena mereka mempercayai aku sebagai tempat mereka bercerita. Namun, beberapa di antara mereka ada yang sempat menyampaikan "Aku 4 hari kemarin selama berturut-turut menangis seharian." atau "Masalahku sudah lewat. Aku menderitanya kemarin-kemarin."
Aku terkadang merasa sebagai seorang teman yang gagal.
Aku takut akan mereka tidak mempercayaiku lagi sebagai tempat curhat mereka. Tapi yang terpenting adalah aku merasa gagal karena membiarkan temanku yang sedang mengalami suatu masalah sempat menangis sendirian.
Beberapa orang prefer menangis sendirian untuk melegakan dirinya. Tapi sebagian orang yang lainnya menginginkan dirinya memiliki companion saat menangis. Atau mungkin tergantung dari masalah yang dihadapi. Dan masalah-masalah yang aku temui dari temanku yang telat curhat ini adalah jenis masalah yang secara umum memerlukan orang lain untuk dijadikan companion.
Saat kita memiliki masalah, sangat ingin bercerita akan masalah itu, bahkan ingin menangis di hadapan orang lain, tapi ternyata "orang lain" itu tidak ada, tentu yang kita rasakan adalah sesak dan sakit dalam hati. Kita menjadi seperti bingung ingin melampiaskan perasaan kita kepada siapa. Tak jarang, kita bisa-bisa menjadi merasa gila karena tidak melampiaskan masalah dan memendamnya sendiri. Kasus bunuh diri di berita maupun di kisah dalam novel atau komik kebanyakan disebabkan karena pembunuh diri ini depresi dan tidak bisa melampiaskannya dengan menyampaikannya kepada orang lain.
Temanku, percayalah, ada sahabat baik kita yang bisa kita jadikan companion atau tempat curhat atau tempat kita menangis. Ada yang bertipe mendengarkan saja, ada yang dapat memberi solusi, ada yang bisa memberikan ketenangan, ada yang bisa menghibur. Jika tidak memiliki sahabat, temukan orang bijak yang bisa dijadikan sebagai konselor permasalahan kita. Pilihlah orang yang sekiranya tidak mudah mengumbar aib kita. Pasti ada. Kita yang harus berusaha mencari dengan keras. Yang terpenting, janganlah kita memendam masalah kita dengan diri kita sendiri. Nanti jika dibiarkan akan mengendap dan membuat pikiran kita tidak jernih.
Temanku, ayolah, ayo kita menjadi sahabat dari sahabat kita dengan senantiasa berkomunikasi dan selalu berada di sisi mereka, sehingga mereka selalu sadar bahwa mereka memiliki kita sebagai tempat berkeluh kesah. Berkomunikasi secara casual pun bisa memancing sahabat kita untuk angkat bicara akan apa yang tsedang terjadi dalam kehidupan mereka. Intinya always be there for those friends.
Ayo hubungi sahabat baikmu. Siapa tahu mereka sedang ada masalah. Selamat bersahabat!
Akhir-akhir ini beberapa temanku bercerita kepadaku mengenai masalah mereka. Aku sangat senang. Bukan karena mereka memiliki masalah, tapi karena mereka mempercayai aku sebagai tempat mereka bercerita. Namun, beberapa di antara mereka ada yang sempat menyampaikan "Aku 4 hari kemarin selama berturut-turut menangis seharian." atau "Masalahku sudah lewat. Aku menderitanya kemarin-kemarin."
Aku terkadang merasa sebagai seorang teman yang gagal.
Aku takut akan mereka tidak mempercayaiku lagi sebagai tempat curhat mereka. Tapi yang terpenting adalah aku merasa gagal karena membiarkan temanku yang sedang mengalami suatu masalah sempat menangis sendirian.
Beberapa orang prefer menangis sendirian untuk melegakan dirinya. Tapi sebagian orang yang lainnya menginginkan dirinya memiliki companion saat menangis. Atau mungkin tergantung dari masalah yang dihadapi. Dan masalah-masalah yang aku temui dari temanku yang telat curhat ini adalah jenis masalah yang secara umum memerlukan orang lain untuk dijadikan companion.
Saat kita memiliki masalah, sangat ingin bercerita akan masalah itu, bahkan ingin menangis di hadapan orang lain, tapi ternyata "orang lain" itu tidak ada, tentu yang kita rasakan adalah sesak dan sakit dalam hati. Kita menjadi seperti bingung ingin melampiaskan perasaan kita kepada siapa. Tak jarang, kita bisa-bisa menjadi merasa gila karena tidak melampiaskan masalah dan memendamnya sendiri. Kasus bunuh diri di berita maupun di kisah dalam novel atau komik kebanyakan disebabkan karena pembunuh diri ini depresi dan tidak bisa melampiaskannya dengan menyampaikannya kepada orang lain.
Temanku, percayalah, ada sahabat baik kita yang bisa kita jadikan companion atau tempat curhat atau tempat kita menangis. Ada yang bertipe mendengarkan saja, ada yang dapat memberi solusi, ada yang bisa memberikan ketenangan, ada yang bisa menghibur. Jika tidak memiliki sahabat, temukan orang bijak yang bisa dijadikan sebagai konselor permasalahan kita. Pilihlah orang yang sekiranya tidak mudah mengumbar aib kita. Pasti ada. Kita yang harus berusaha mencari dengan keras. Yang terpenting, janganlah kita memendam masalah kita dengan diri kita sendiri. Nanti jika dibiarkan akan mengendap dan membuat pikiran kita tidak jernih.
Temanku, ayolah, ayo kita menjadi sahabat dari sahabat kita dengan senantiasa berkomunikasi dan selalu berada di sisi mereka, sehingga mereka selalu sadar bahwa mereka memiliki kita sebagai tempat berkeluh kesah. Berkomunikasi secara casual pun bisa memancing sahabat kita untuk angkat bicara akan apa yang tsedang terjadi dalam kehidupan mereka. Intinya always be there for those friends.
Ayo hubungi sahabat baikmu. Siapa tahu mereka sedang ada masalah. Selamat bersahabat!
Komentar
Posting Komentar