Ada Waktu?
Jika ada suatu waktu dimana saya bisa
rasa bebas belenggu, bolehlah saya ajak dia untuk duduk bersama dengan
disesakkan kepulan asap teh manis yang masih panas, duduk bersama
memandang bintang di gelapnya malam bagai keklisean yang selama ini saya
impikan. Lalu saya tanya, "Apa kabarmu?" dan kemudian saya siapkan
telinga untuk mengindahkan obrolannya yang kadang membuat saya takjub
sendiri. Kemudian bolehlah juga saya lontarkan apa-apa yang selama ini
menjadi gundah agar terlempar semua dan lega hati saya. Bolehlah juga
saya tuangkan pikiran-pikiran gila saya kepadanya, biar dia ikut gila,
lalu kita menikmati kegilaan itu sampai larut bahkan subuh tiba.
Bolehlah juga saya sampaikan rindu yang ampun gaduh selama ini dirasa.
Bolehlah rasa ini menjalar-jalar karena selama ini pikiran saya
mencakar-cakar dinding otak saya hingga susah saya berdiri menopang
sakit kepala. Jika ada suatu waktu dimana saya dan dia bersua, sudah
dipastikan itu adalah malam hari, dimana otak kami beradu berani saling
bacot kesana kemari. Intinya adalah saat lengang tiba, pikiran saya
kemana-mana. Lalu saya bingung mau diantar kemana. Kalau saya katakan
kepada kamu kamu semua, kamu nanti hilang kemana. Lalu saya sendiri lagi
juga. Lalu bagaimana jadinya?
Jika ada waktu, inginnya ada waktu. Semoga ada waktu.
Jika ada waktu, inginnya ada waktu. Semoga ada waktu.
Komentar
Posting Komentar