Sifar


Pernahkah kita berhenti sejenak dan menyadari betapa banyak yang kita lakukan selama ini?

Sudah puaskah? Atau masih kurang? Mau tambah? Tambah apa lagi?

Tapi tunggu!

Mengapa kita melakukan semua itu?

Karena aku ingin membanggakan orangtua!

Karena aku ingin terkenal!

Karena aku ingin berbakti kepada negara!

Ya karena mau saja~

Lalu, jika ajal datang, bagaimana dengan semua yang kita lakukan?

Apakah orangtua yang kelas juga meninggal bisa mengingatnya?

Apakah para penggemar tidak akan lupa di kemudian hari setelah rasa duka mereka terhadap kita pergi?

Apakah di kehidupan selanjutnya semua akan tetap ada?

Kita harus mengabadikan nilai hal-hal yang telah kita lakukan agar kekal.

Dengan foto?

Bukan.

Dengan tulisan?

Tidak.

Dengan rekaman?

Kurang tepat.

Manusia dan hal-hal yang bersifat duniawi bersifat fana, tidak kekal, akan musnah.

Maka, cara yang tepat adalah ...

Dengan meniatkannya sebagai ibadah sehingga menjadi bekal kita di kehidupan selanjutnya.

Mari kita coba analogikan. Asumsikan hal-hal yang kita lakukan sebagai angka-angka. Kita bisa menjumlahkan seluruhnya karena perbuatan baik dan bermanfaat terus kita lakukan sepanjang hayat.

Namun, ternyata seluruh penjumlahan itu memiliki angka pengali, yaitu 0. Siapakah 0? 0 adalah kematian.

(7+2+5+3+2+5+8+6+1+9+....) x 0 = 0

Ternyata, sebanyak apapun hal yang kita lakukan dan selalu tambahkan, bila semua diakhiri dengan kematian tanpa makna, yaitu angka 0, hasilnya adalah nol, sia-sia!

Perilaku kita menolong orangtua menyeberang zebra cross tadi pagi musnah!

Keikhlasan kita berperan sebagai sukarelawan corona hilang!

Tulisan kita di media sosial terhapuskan!

Namun, jika kita melandaskan segala hal yang dilakukan dengan menjadikannya sebagai ibadah kepada Allah, maka akan angka pengalinya adalah angka 1.

(7+2+5+3+2+5+8+6+1+9+....) x 1 = ~

Segala hal yang kita lakukan akan bernilai. Semakin banyak hal yang dilakukan dengan meniatkannya sebagai ibadah kepada Allah, semakin besar nilai akhir kita. Semuanya dihargai.

Poin inilah yang akan kita bawa di kehidupan selanjutnya, alam akhirat. 

Lantas, Teman-teman, berhentilah sejenak.

Ayo introspeksi diri. 

Sudahkaah meniatkan segala hal, termasuk hal yang kecil dan remeh, namun baik, semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT?

Ayo kumpulkan poinnya untuk bekal di akhirat nanti!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sementara

Batasan yang Jelas

The Silent Man #6: Sesungguhnya Aku Gemar Bercerita