The Silent Man #4: Apakah Kau Suka yang Baik? Apakah Baik yang Kau Suka?
Masih ingat betapa sangat terpuruknya diri ini karena tidak ditawari untuk menjadi tim kerja praktik departemen, bahkan oleh orang-orang yang hampir setiap hari bercengkrama dengan akrab.
Masih ingat betapa diri ini merasa tidak berharga ketika selama ini hubungan teman yang diyakini ternyata bertepuk sebelah tangan. Dirasanya mereka pasti menjadikan aku pilihan nomor satu karena aku satu-satunya yang berbeda. Namun karena "berbeda" itulah aku tak terpilih.
Masih ingat betapa diri ini menyesal tiada henti ketika mendapati diri sangat bodoh menolak tawaran menjadi rekan tim yang harusnya dinanti-nanti hanya karena tidak mengenali.
Masih ingat betapa diri ini sangat ingin merantau kembali, kerja praktik, jauh-jauh dari rumah. Dengan kondisi rumah yang menyesakkan, inginnya pergi saja, tidak perlu memikirkan rumah sama sekali. Sudah setahun mendekam. Harus lagi?
Betapa susahnya mencari tempat untuk kerja praktik. Ada proyek yang lockdown lah. Ada proyek yang ternyata sudah mau selesai lah. Ada proyek yang sudah full mahasiswa magang lah. Apa lagi? Semua kendala sudah dialami.
Lihat? Di kala yang lain sudah mapan dengan kelompok, aku masih bingung menemukan siapa yang sudi menjadi rekan kerja tim. Di kala yang lain sudah pamer foto proyek, aku masih kesana kemari mencari. Memang sudah barangkali apesku adalah tahun ini.
Puluhan email dikirimkan. Belasan kenalan dikerahkan. Doa dipanjatkan. Air mata sudah terkuras habis. Bayangan untuk lulus terlambat terngiang-ngiang. Mungkin ini balasan untukku yang pemalas, pikirku.
Kalian tahu? Ayah sakit. Sangat sakit. Rumah adalah tempat yang tidak aku harapkan untuk berpulang. Semua berubah, termasuk apa yang dilaku sehari-hari. 24/7 rasanya tidak ada waktu untuk sendiri. Setelah urusan akademis selesai, urusan non akademis menghampiri. Setelahnya, urusan rumah dan keluarga mendatangi.
Hidup bagaikan mati. Tiada henti. Inginnya tidak bernyawa lagi. Tapi tentu tidak mungkin terjadi.
Namun lihatlah!
Ternyata pada akhirnya aku dipertemukan dengan 2 rekan tim yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan bisa satu kelompok. Sosok yang selama 6 semester berkuliah hanya pernah bersua dari jauh selama 1 semester saja. Sosok yang meski berasal dari daerah yang sama namun tidak pernah menjadi teman sepermainan. Sosok-sosok yang untuk berinteraksi bersama mereka saja pikiranku bingung harus bagaimana.
Di antara segala jenis proyek yang menjadi opsi, ternyata yang terpilih adalah proyek yang paling dekat dari rumah. Konsekuensinya adalah pulang sesekali. Harusnya orang-orang senang? Tapi kenapa aku kesal?
Menjadi 1 tim aneh adalah sebuah hal yang agaknya membingungkan beberapa orang. "Kenapa mereka bertiga bisa bersama?". Tebak sendiri jawabannya. Karena kami buangan? Karena kami terasingkan? Karena kami tidak dihargai? Agak benar, tapi lebih tepatnya karena kami sudah ditakdirkan demikian.
Proyek yang dekat memang bikin kesal, tapi linear dengan apa yang aku pelajari. Masih ingat dimana aku mengumpat kepada sosok teman, "Aku bisa menyesal seumur hidup tidak kerja praktik di tempat yang berhubungan dengan Teknik Lingkungan!" Dan benar saja, proyek yang aku jadikan tempat kerja praktik sangat mendukung diriku untuk belajar lebih jauh.
Tak hanya itu, lihatlah apa yang terjadi.
Ayah kini berpulang.
Bagaimana jadinya jika perjalan yang ditempuh ke lokasi proyek terlampau jauh?
Ayah tidak mungkin ikut mengantarkan.
Ayah tidak mungkin ikut mencarikan tempat tinggal.
Ayah tidak mungkin berpura-pura sehat untuk melepaskan putri kecilnya yang tak tahu diuntung kembali hidup sendirian.
Bagaimana jadinya jika aku merantau jauh di daerah yang perjalanannya memakan waktu 12 jam sampai rumah?
Tentu bukan aku yang bisa menenangkan adik kecilku.
Tentu bukan aku yang menguatkan pundak ibu.
Tentu bukan aku yang sayangnya terpuruk dalam dekapan kakakku.
Tentu bukan aku yang menjadi salah satu orang yang menaburkan bunga segar di hari pemakaman.
Tuhan, adalah benar apa-apa rencanamu. Adalah paling tepat segala takdirmu. Adalah paling baik apa yang Kau canangkan untukku.
Apa yang aku suka, belum tentu baik.
Apa yang baik, belum tentu aku suka.
Namun yang baik adalah yang Engkau suka dan nyatanya akhirnya aku juga suka.

I feel u mba. Tulisannya deep sekaliđź–¤
BalasHapus