Menempatkan dan Menakar Rasa
Beberapa
waktu yang lalu, saya merasa berada pada titik terendah saya sebagai manusia.
Saya galau. Saya ditinggalkan oleh
seorang manusia.
Orang ini adalah sosok yang sangat saya
kagumi, sangat saya sayangi, sangat saya percayai, dan sangat saya harapkan.
Ternyata, 'ke-sangat-an' ini adalah
awal dari terjerumusnya saya menjadi manusia yang rendah.
Katanya, yang berlebihan itu tidak
baik. Dan sekarang saya menyadari bahwa hal ini bukan 'katanya' lagi, melainkan
'nyatanya'.
Apa yang membuat saya menjadi
manusia rendahan karena sangat mengagumi? Jawabannya adalah saya menjadi buta
akan keburukan yang ia berikan kepada saya. Mungkin bukan keburukan yang bisa
terlihat secara fisik, melainkan keburukan dalam perkataan ataupun pikiran.
Saat itu saya menganggap apapun yang ia lakukan, walaupun sebenarnya buruk,
adalah baik-baik saja. Sehingga saya tidak sadar bagian keburukan ini
terus-menerus terjadi dan memberikan dampak buruk juga kepada saya.
Apa yang membuat saya menjadi
manusia rendahan karena sangat menyayangi? Jawabannya adalah saya jadi rela
disakiti. Apapun bentuk penyakitnya, yang terutama adalah perasaan, pada saat
itu saya rela, hanya karena dilandasi rasa sayang. Saya tidak mau berusaha
keluar dari kesakitan itu dan malah memilih tidak apa disakiti, asalkan
bersamanya. Semuanya karena terlalu sayang.
Apa yang membuat saya menjadi
manusia rendahan karena sangat mempercayai? Jawabannya adalah saya jadi seperti
orang bodoh karena mempercayai orang yang ternyata kurang pantas dipercayai.
Dan saya menjadi jatuh sangat kecewa saat ia terkuak tidak bisa saya percayai,
saat ia berbohong, saat ia tidak percaya saya, saat ia tidak menjalankan
amanah. Karena kekecewaan yang teramat sangat, saya menjadi berpikiran buruk
terhadap apapun, menjadi badmood, orang-orang di sekitar saya juga
terkena imbasnya.
Apa yang membuat saya menjadi
manusia rendahan karena sangat berharap? Jawabannya adalah saya jadi sedih
sesedih-sedihnya ketika karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, sedangkan
realitanya jauh dari harapan tersebut. Sedih menjadikan saya tidak bersemangat melakukan
apapun, sering melamun, tidak enjoy dengan kehidupan realita saya.
Apapun itu dampak dari
'ke-sangat-an', benar-benar membawa dampak buruk bagi hidup saya.
Yah, kita tahu bahwa manusia adalah
tempat segala salah dan khilaf, semua orang melakukan kesalahan. Jadi yang saya
garis bawahi bukanlah seberapa buruk orang yang pergi, tapi bagaimana cara saya
menyikapi orang tersebut.
Dan sekarang saya
sadar, selama ini saya salah menempatkan dan menakar rasa.
Rasa kepada makhluk Allah memang
merupakan hal yang lumrah dan manusiawi. Tidak ada yang melarang manusia
menyalurkan perasaan kepada manusia lain. Tapi, dalam menyalurkan perasaan
kepada manusia, selama ini saya keliru menakar volumenya. Saya terlalu banyak
menuangkan perasaan. 'Ke-sangat-an' ini merupakan bentuk saya terlalu
berlebihan dalam menyalurkan perasaan kepada manusia. Dan apa yang terjadi saat
saya berlebihan adalah sewaktu-waktu saya bisa ngedown berlebihan juga.
Dan ini sangat sangat tidak baik pada diri saya. Percaya atau tidak, waktu saya
galau dan sedih karena semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya
pikirkan, semangat hidup rasanya lenyap! Saat orang mencoba mengajak saya
berinteraksi, saya malah enggan dan malas untuk membalas interaksi tersebut,
walau orang itu tidak mempunyai masalah dengan saya sama sekali. Orang-orang
jadi mengasihani bahkan risih terhadap saya. Memang tidak bisa dipungkiri,
'ke-sangat-an' ini bisa menjadikan kita lebay dalam merespons sesuatu
yang menyedihkan, seperti yang sebelumnya saya jelaskan. Benar-benar lebay dan
overreact. Sekali lagi, ini tidak baik.
Salah satu perasaan yang saya
kurang menakarnya adalah perasaan cinta kepada diriku sendiri, bahkan belum
menempatkannya. Cinta kepada diri sendiri atau self-love benar-benar
penting sepenting-pentingnya. Dengan self-love, kita setidaknya bisa
sadar diri bahwa 'ke-sangat-an' yang membuat kita sedih terlalu berlebihan ini
benar-benar tidak baik. Kita ini worthy enough untuk berbahagia. Dengan
adanya self-love, kita bisa menyadari bagaimana diri kita, terutama apa
yang selama ini bisa membuat kita bahagia dan menikmati kehidupan dan melupakan
masalah-masalah dengan manusia, entah itu sangat kagum, sangat cinta, sangat
percaya, atau sangat berharap. Apabila sewaktu-waktu kita sedih atau ngedown,
dengan srlf-love, kita bisa langsung terpikiran akan ambil tindakan
apa untuk kembali up. Saat ada orang yang langsung bereaksi saat melihat
atau mendengar nama orang yang bermasalah, dengan self-love, dia akan
langsung menghapus kontaknya, unfollow instagramnya, unfollow twitternya,
menghindari hal-hal yang memunculkan nama orang yang membuat kita sedih ini.
Atau mungkin nama dan wajah pun tak masalah bagi sebagian orang, mereka bisa
langsung melakukan hal yang menyibukkan diri dan pikiran mereka, seperti
membuat project, melakukan produktivitas, dan lain-lain. Kita juga bisa
meyakinkan diri kita bahwa kita benar-benar tidak pantas dengan orang yang
bermasalah dengan kita tersebut. Bisa karena kita lebih baik, bisa juga karena
kita lebih buruk. Apabila kita lebih baik, kita patutnya bersyukur bisa
ditinggalkan dan memulai kehidupan yang baik-baik dengan orang yang membawa
kita lebih baik lagi. Apabila kita lebih buruk, patutlah kita melakukan
introspeksi diri dan memperbaiki diri, sehingga nantinya bisa pantas untuk
berhubungan dengan orang baik. Intinya, self-love benar-benar bisa
membuat kita mudah memposisikan diri terhadap keadaan maupun memposisikan
keadaan terhadap diri kita, terutama saat kita merasa rendah.
Dan perasaan yang paling penting
dan harus tempatkan plus takar sebanyak-banyaknya adalah cinta kepada Allah.
Saat itu, hubungan saya dengan manusia tidak berjalan lancar mungkin karena
Allah merindukan saya, karena Allah ingin saya lebih dekat kepada-Nya, karena
Allah ingin saya tidak memikirkan manusia di atas saya memikirkan-Nya. Tidak
baik memang apabila kita memikirkan Allah hanya pada saat kita bermasalah. Tapi
tidak perlu malu, Allah akan selalu menerima kita, karena tidak ada kata
terlambat dalam berhubungan dengan Allah.
Saat saya melampiaskan perasaan
rindu saya kepada Allah, saya seakan-akan diyakinkan bahwa saya tidak perlu
rindu karena kami bisa bertemu setiap saat, dalam sholat, dalam dzikir, dalam
mengaji, dalam doa, dalam hal apapun yang berhubungan langsung dengan-Nya. Saya
tidak perlu risau lagi saat bersedih hati, saat galau, saat gelisah juga, Allah
selalu ada untuk saya.
Saat saya butuh jawaban dari semua
masalah saya, Allah hadir memberikan saya jawaban dari hati dan pikiran saya.
Jawaban yang Allah tetapkan benar-benar merupakan yang terbaik bagi
kelangsungan hidup saya. Tidak ada yang lebih tahu apa yang terbaik bagi
manusia kecuali Allah.
Saat saya mengekspresikan rasa cinta
saya kepada Allah, Allah berbalik membalas cinta dengan membuka mata saya agar
saya tahu bahwa Allah jauuuuuh lebih cinta kepada saya melalui
nikmat-nikmat-Nya. Saya jadi lebih bersyukur saat saya bangun tidur, saat saya
bisa bertemu keluarga saya, saat indera saya tetap berfungsi, saat tubuh masih
normal, saat saya mendengar kicauan burung, saat saya bisa bernafas, saat
apapun. Semua hal yang terjadi pada saya adalah bentuk rasa cinta Allah kepada saya.
Saat saya meluapkan rasa kagum
kepada-Nya, Allah beri saya rezeki yang tak terduga-duga untuk menambah kagum
saya, seperti banyak orang yang menawarkan kegiatan positif kepada saya di
bulan Ramadhan ini, sahabat saya menjadi jauh lebih dekat kepada saya, dan
banyak lagi rezeki yang tiba-tiba datang begitu saja saat saya kembalikan semua
hal dalam hidup kepada Allah.
MasyaAllah, benar-benar perasaan
kepada Allah itu sangatlah baik, apalagi di-sangat-sangat-kan, malah sangat
jauh lebih baik lagi.
Jadi, Teman-teman, jangan lupa
menciptakan self-love dalam diri kita semua, karena semua hal di dunia
ini adalah pilihan. Dan yang memilih satu di antara sekian pilihan adalah diri
kita. Apakah kita memilih untuk terlarut-larut dalam kesedihan karena khianat
manusia lain, apakah kita memilih untuk berjuang menjadi diri yang lebih baik,
semua tergantung kita. Kita harus memahami diri dan mencintai diri agar tahu
mana yang cocok bagi kita.
Dan, Teman-teman, mencurahkan
perasaan kepada manusia, walaupun ia adalah manusia yang kita pikir sangat
baik, percayalah bahwa Allah adalah satu-satunya sosok yang sangat baik
selamanya. Sebaik-baik manusia adalah jauuuuh sekali di bawah kebaikan Allah.
Allah tidak akan berkhianat, tidak akan menjerumuskan, tidak akan memberi
jawaban yang bukan terbaik.
Tulisan ini bukan sok alim atau
bagaimana. Ini berdasarkan pengalaman perasaan asli yang sudah saya lalui.
Jadi, semoga Teman-teman bisa terbantu dengan saya menceritakan pengalaman hidup
saya ini.
Great work! Keep going mben! Alhamdulillah setelah membacanya saya mendapat pencerahan. ❤
BalasHapusalhamdulillah.. thank you!
HapusAlhamdulillah aku jadi lebih termotivasi habis baca tulisanmu ini❤
BalasHapusTerus berkarya mben, semuanya mendukungmu sepenuh hati!!😍
alhadulillah.. huhuhu makasihhh
Hapusmarine nggawe buku autobiografi :v
BalasHapusaamiin li aamiin wkwk
Hapus